Kamis, 17 April 2014

" SUATU HAL YANG PASTI, BAHWA THAGHUT - THAGHUT DI SELURUH DUNIA TIDAK AKAN MUNGKIN BISA DIBASMI SELAIN DENGAN PEDANG BAGIAN 2 "

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Setelah Itu Ia Keluar Hingga Ia Masih Bisa Shalat Subuh Bersama Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Ketika Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Beranjak Dari Tempat Shalatnya, Ia Melihat Umair, Beliau Bersabda, : “ Apakah Kamu Telah Membunuh Puteri Marwan ? ” Umair Menjawab, : “ Ya, Ayahku Kupertaruhkan Untuk Engkau Wahai Rasulullah. ” Umair Khawatir Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Kaget Dengan Pembunuhan Itu, Maka Ia Berkata, : “ Apakah Aku Harus Menanggung Sesuatu Akibat Peristiwa Itu, Wahai Rasulullah ? ” Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Bersabda, : “ Tidak Akan Ada Dua Kambing Yang Menanduknya. ” Kata - Kata Ini Didengar Pertama Kali Dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Umair Berkata, : “ Setelah Itu Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Menoleh Ke Arah Orang - Orang Di Sekelilingnya, Lalu Bersabda, : “ Jika Kalian Ingin Melihat Orang Yang Menolong Allah Dan Rasul-Nya Secara Diam - Diam, Lihatlah Kepada Umair Bin Adiy. ” Maka Umar Bin Khathab Berkata, : “ Lihatlah Orang Buta Ini, Ia Berjalan Di Malam Hari Dalam Rangka Mentaati Allah. ” Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Bersabda, : “ Jangan Sebut Dia Buta, Sesungguhnya Dia Melihat. ” Ketika Umair Pulang Dari Tempat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Ia Menjumpai Anak - Anak Wanita Itu Menguburkan Ibunya. Begitu Melihat Umair Datang Dari Madinah, Mereka Menghampirinya Dan Mengatakan, : “ Hai Umair, Kamu Telah Membunuhnya ? ” Ia Berkata, : “ Ya, Kalau Kalian Semua Mau Mencelakakan Aku Silahkan Lakukan Dan Tidak Usah Kalian Tunda - Tunda. Demi Dzat Yang Jiwaku Ada Di Tangan-Nya, Seandainya Kalian Mengatakan Seperti Apa Yang Dikatakan Ibu Kalian, Aku Akan Penggal Kalian Semua Dengan Pedangku Ini, Sampai Aku Mati Atau Aku Berhasil Membunuh Kalian. ” Sejak Saat Itu, Islam Mengalami Kemenangan Di Kalangan Bani Khuthmah. Tadinya, Ada Beberapa Orang Dari Kalangan Mereka Yang Menyembunyikan Keislamannya Lantaran Takut Kepada Kaumnya. Atas Kejadian Itu, Hassan Bin Tsabit Melantunkan Sebuah Syair Yang Memuji Perbuatan Umair Bin Adiy. Al - Waqidiy Berkata, : " Abdullah Bin Harits Melantunkan Syair : Bani Wail, Bani Waqif, Dan Bani Khuthmah, Derajatnya Lebih Rendah Daripada Bani Khazraj, Kapan Saudari Kalian Mengaku Bersuami Dengannya, Sementara Kematian Mendatanginya, Maka Ia Guncangkan Pemuda Yang Mulia Nasabnya, Yang Luhur Tempat Keluar Dan Masuknya, Lalu Ia Melumuri Wanita Itu Dengan Darah Yang Merah Kehitaman, Sebelum Subuh Sedangkan Dia Belum Keluar, Maka Allahpun Memasukkan Pemuda Itu Ke Dalam Syurga Yang Dingin, Dengan Riang Karena Masuk Dalam Kenikmatan.


Abu Ahmad Al - Askariy Meriwayatkan Kisah Yang Lebih Ringkas Dari Ini, Setelah Itu Ia Berkata, : “ Wanita Ini Biasa Mengejek Dan Menyakiti Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. ” Kisah Ini Juga Disebutkan Secara Ringkas Dalam Ath - Thabaqat Oleh Muhammad Bin Sa‘d.


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullaah Berkata, : " Setelah Menyebutkan Kisah Ini, “ Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Secara Khusus Menyebut Kata Al - ‘Anaz ( Kambing Betina ) Karena ‘Anaz Biasanya Beradu Dengan ‘Anaz Lain Kemudian Meninggalkannya, Tidak Seperti Tandukan Kambing Kibasy Atau Yang Lain. ”Abu Ubaidah Rahimahullaah Berkata Di Dalam Al - Amwal, “ Demikian Juga Kisah ‘Ashma, Wanita Yahudi, Ia Dibunuh Karena Mencaci Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Sedangkan Wanita Ini, Bukan Wanita Yang Dibunuh Oleh Suaminya Yang Buta, Bukan Juga Wanita Yahudi. Sebab Wanita Ini Berasal Dari Bani Umayah Bin Zaid, Salah Satu Rumpun Kabilah Anshor. Ia Punya Suami Dari Bani Khuthmah. Karenanya, Wallahu A‘lam, Dalam Hadits Ibnu Abbas Ia Dinisbatkan Kepada Bani Khutmah, Sementara Pembunuhnya Bukan Suaminya. Wanita Ini Punya Beberapa Orang Anak, Ada Yang Sudah Dewasa Dan Ada Yang Masih Kecil. Memang, Bahwa Pembunuhnya Dari Kabilah Suaminya, Sebagaimana Tercantum Dalam Hadits.


” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullaah Berkata, : “ Sengaja Kami Kemukakan Kisah Ini Bersumber Dari Riwayat Ahlul Maghoziy Beserta Dengan Riwayat Al - Waqidiy Yang Di Dalamnya Ada Kelemahan, Hal Itu Karena Kisah Ini Cukup Masyhur Di Kalangan Mereka. Di Saat Yang Sama, Tidak Ada Yang Memperselisihkan Bahwa Al - Waqidiy Adalah Orang Yang Paling Tahu Tentang Rincian - Rincian Kisah Berbagai Peperangan, Paling Tahu Tentang Kondisinya.


Imam Ahmad, Imam Syafi‘iy Dan Lain - Lain Juga Mengambil Ilmu Tersebut Dari Buku - Bukunya. Memang Benar, Kisah Ini Dicampuri Kerancuan - Kerancuan Riwayat, Sampai Tampak Terlihat Ia Mendengar Seluruh Kisahnya Dari Guru - Gurunya, Padahal Ia Menerima Dari Masing - Masing Syaikh Sepenggal - Sepenggal, Lalu Ia Gabungkan Tanpa Ia Pilah - Pilah Dari Masing - Masing Syaikh. Ia Mengambilnya Dari Hadits Mursal Dan Maqthu‘, Yang Bisa Jadi Seorang Perawi Menduga - Duga Beberapa Perkara Dengan Mengacu Kepada Bukti - Bukti Penguat Yang Menyertai ( Qorinah ) Yang Ia Ambil Dari Beberapa Jalur Periwayatan. Kemudian Ia Banyak Melakukan Itu Hingga Menyebabkan Ia Dituduh Melakukan Pemalsuan Riwayat Dan Tidak Teliti Sehingga Tidak Bisa Berhujjah Dengan Apa Yang Ia Riwayatkan Sendirian. Adapun Berdalil Dengan Haditsnya, Atau Menjadikan Haditsnya Sebagai Penguat, Maka Itu Merupakan Perkara Yang Tidak Mungkin Ditentang, Apalagi Kisah Itu Sempurna ; Yang Di Dalamnya Ia Menyebutkan Namanya Pembunuh, Nama Yang Dibunuh, Gambaran Kondisi Saat Itu. Sebab Orang Yang Seperti Ini, Lebih Baik Daripada Mereka Yang Mengangkat Kedustaan Atau Pemalsuan Hadits Dalam Urusan Seperti Ini. Di Saat Yang Sama, Kita Tidak Menetapkan Disyariatkannya Membunuh Orang Yang Mencaci Rasul Semata - Mata Dengan Hadits Ini Saja, Tetapi Kita Menyebutkannya Hanya Sebatas Penguat Dan Penegasan. Dan Ini Bisa Dilakukan Dengan Hadits Yang Diriwayatkan Oleh Orang Yang Kapasitasnya Lebih Rendah Daripada Al - Waqidiy.


DENGAN WAFATNYA RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM PEMBERIAN MAAF TIDAK MUNGKIN DILAKUKAN, MAKA TINGGALLAH MEMBUNUH ORANG SEPERTI ITU MENJADI HAK MURNI BAGI ALLAH, RASUL-NYA DAN ORANG - ORANG BERIMAN DAN PELAKUNYA TIDAK PERLU DIMAAFKAN. MAKA MEMBUNUHNYA MENJADI WAJIB UNTUK DILAKSANAKAN.


”Syaikhul Islam Rahimahullaah Juga Berkata, : “ Dulu Para Shahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Apabila Melihat Orang Yang Menyakiti Beliau, Mereka Ingin Membunuhnya, Karena Mereka Tahu Bahwa Orang Seperti Ini Layak Dibunuh. Kemudian Beliau Memaafkannya Dan Menerangkan Kepada Mereka Bahwa Memaafkannya Lebih Mendatangkan Mashlahat, Meski Pun Beliau Menyatakan Bolehnya Membunuh Orang Seperti Itu. Seandainya Ada Orang Yang Membunuhnya Sebelum Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Memaafkan, Beliau Tidak Memarahinya, Karena Beliau Tahu Dia Melakukan Itu Untuk Membela Allah Dan Rasul-Nya. Bahkan, Beliau Akan Memujinya Sebagaimana Ketika Umar Radhiyallaahu 'Anhu Membunuh Seseorang Yang Tidak Ridha Dengan Hukum Beliau, Dan Sebagaimana Ketika Ada Seorang Lelaki Yang Membunuh Puteri Marwan, Juga Wanita Yahudi. Jika Dengan Wafatnya Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Pemberian Maaf Tidak Mungkin Dilakukan, Maka Tinggallah Membunuh Orang Seperti Itu Menjadi Hak Murni Bagi Allah, Rasul-Nya Dan Orang - Orang Beriman, Dan Pelakunya Tidak Perlu Dimaafkan. Maka Membunuhnya Menjadi Wajib Untuk Dilaksanakan.”


DALIL KEDELAPAN :


ORANG KAFIR MU'AHAD JIKA MENAMPAKAN PENGHINAAN MAKA IKATAN PERJANJIAN BATAL DAN BOLEH DIBUNH SECARA DIAM - DIAM ( DENGAN CARA IGHTIYAL ).





Kisah Abu ‘Ifk, Seorang YahudiAhlu `l-Maghaziy Wa `S-Siyar Menyebutkan Kisah Ini. Al - Waqidiy Berkata, Telah Bercerita Kepadaku Syu‘bah Bin Muhammad Dari ‘Imarah Bin Ghaziyyah Dan Telah Menceritakannya Kepada Kami Abu Mush‘ab Ismail Bin Mush‘ab Bin Isma‘il Bin Zaid Bin Tsabit Dari Guru - Gurunya, Keduanya Berkata, : “ Ada Orang Tua Dari Bani Amru Bin Auf Yang Biasa Dipanggil Abu ‘Ifk. Ia Adalah Orang Yang Sudah Sangat Tua, Umurnya Sudah 120 Tahun Ketika Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Datang Di Madinah. Ia Suka Memprovokasi Untuk Memusuhi Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Dan Tidak Mau Masuk Islam. Maka Tatkala Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Keluar Menuju Badar, Allah Memenangkan Beliau Lalu Orang Ini Dengki Dan Iri Kepada Beliau. Kemudian Ia Melantunkan Syair Yang Isinya Mencela Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Dan Menghina Orang Yang Mengikuti Beliau, Yang Paling Parah Ia Katakan Di Sana Adalah :Maka Orang Itu Merampas Urusan MerekaYang Halal Dan Haram Tak Dibedakan LagiSalim Bin Umair Berkata, : “ Aku Bernadzar Akan Membunuh Abu ‘Ifk Atau Aku Mati Karenanya. ”Kemudian Ia Menunggu Beberapa Waktu, Ia Mencari Saat Dia Lengah. Hingga Ketika Tiba Di Suatu Malam Di Musim Panas, Abu ‘Ifk Tidur Di Sebuah Teras Di Pemukiman Bani Amru Bin Auf. Maka Salim Bin Umair Menghunjamkan Pedangnya Tepat Di Dadanya Sampai - Sampai Tembus Ke Tempat Tidurnya, Musuh Allah Itu Berteriak, Maka Orang - Orang Yang Mendukungnya Mendatanginya Dan Memasukkannya Ke Dalam Rumahnya Sebelum Akhirnya Menguburkannya. Mereka Mengatakan, : “ Siapakah Yang Membunuhnya ? Demi Allah, Kalau Kita Tahu Pembunuhnya Pasti Akan Kita Bunuh Dia. ”


Seperti Inilah Yang Dikisahkan Oleh Muhammad Bin Sa‘ad, Ia Mengatakan Bahwa Abu ‘Ifk Adalah Seorang Yahudi, Kami Telah Sebutkan Sebelumnya Bahwa Kaum Yahudi Di Madinah Seluruhnya Terikat Perjanjian Damai. Kemudian Ketika Dia Mencela Dan Menampakkan Hinaan Kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Ia Dibunuh.Al - Waqidiy Berkata Dari Ibnu Raqsy, : “ Abu ‘Ifk Dibunuh Pada Bulan Syawal, 20 Bulan Setelah Hijrah. ”


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullaah Berkata Setelah Menyebutkan Kisah Ini, : “ Ini Terjadi Jauh Sebelum Pembunuhan Ka‘ab Bin Al - Asyraf. Dan Ini Merupakan Dalil Yang Jelas Menunjukkan Bahwa Orang Kafir Mu‘ahad Jika Menampakkan Penghinaan Maka Ikatan Perjanjiannya Batal Dan Boleh Dibunuh Secara Diam - Diam ( Dengan Cara Ightiyal ). Hanya Saja Kisah Ini Ada Pada Riwayat Ahlu `l- Maghaziy, Dan Layak Untuk Pendukung Dan Penguat Tanpa Diragukan.”


DALIL KESEMBILAN :


MELAKSANAKAN PERINTAH SURAT NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM YANG ISINYA MEMERINTAHKAN BANGKIT MEMBELA AGAMA, BAIK DENGAN CARA IGHTIYALAT ATAU DENGAN KONFRONTASI LANGSUNG BAGI YANG MEMILIKI KEBERANIAN DAN AGAMA ( IMAN ).


Kisah Pembunuhan Al - Aswad Al - ‘Unsiy.Ibnu Katsir Rahimahullaah Bercerita Tentang Al - Aswad Al - ‘Unsiy : “ Kerajaan Dan Pengaruhnya Semakin Menguat, Kemudian Banyak Sekali Orang - Orang Yaman Yang Murtad Dari Islam. Kaum muslimin Di Sana Menghadapinya Dengan Cara Taqiyah. Urusan Kepemimpinan Dia Serahkan Kepada Amru Bin Ma‘dikarb, Urusan Ketentaraan Ia Serahkan Kepada Qois Bin Abdu Yaghuts, Sedangkan Urusan Anak - Anak Ia Serahkan Kepada Fairuz Ad - Dailamiy Dan Dadzawaih. Ia Menikah Dengan Mantan Isteri Syahr Bin Badzam, Wanita Ini Masih Sepupu Dari Fairuz Ad - Dailamiy, Namanya Adalah Zaad. Ia Adalah Wanita Yang Cantik Dan Rupawan, Meski Pun Begitu Ia Beriman Kepada Allah Dan Rasul-Nya ( Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ) Dan Satu Dari Wanita - Wanita Sholehah. Saif Bin Umar At - Tamimiy Berkata, : “ Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Mendengar Berita Tentang Aswad Al - ‘Unsiy ( Yang Mengaku Nabi, Pent. ), Beliau Mengirimkan Surat Melalui Seseorang Bernama Wabar Bin Yahnas Ad - Dailamiy Yang Isinya Memerintahkan Kaum Muslimin Di Sana Untuk Memerangi Aswad Al - Unsiy.


Di Dalam Sejarah Bangsa - Bangsa Dan Para Raja ( Tarikhu `l- Umam Wa `l- Muluk ) Disebutkan, : Ath - Thabariy Meriwayatkan Dengan Isnadnya Dari Dhahak Bin Fairuz Ia Berkata, : “ Datang Kepada Kami Wabar Bin Yuhannas Membawa Surat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Yang Di Dalamnya Beliau Memerintahkan Kami Untuk Bangkit Membela Agama Kita Dan Mulai Melakukan Peperangan Serta Bekerja Untuk Membunuh Aswad, Baik Dengan Cara Ightiyalat Atau Dengan Konfrontasi Langsung, Beliau Juga Berpesan Agar Menyampaikan Isi Surat Itu Kepada Orang Yang Kami Pandang Memiliki Keberanian Dan Agama ( Iman ). Maka Kami Pun Melaksanakannya. ”


Demikian, Ibnu Katsir Rahimahullaah.Melengkapi Kisah Di Atas, Ibnu Katsir Berkata, : “ Shahabat Muadz Bin Jabal Berhasil Melaksanakan Perintah Surat Ini Dengan Sempurna. Beliau Menikahi Seorang Wanita Dari Bani Sukun, Hingga Akhirnya Mereka Mau Mendukungnya Untuk Melawan Aswad, Ini Karena Kesabaran Muadz, Dan Mereka Turut Bersama - Sama Beliau Melaksanakan Isi Surat Itu, Mereka Menyampaikan Isi Surat Itu Kepada Para Pejabat Yang Diangkat Oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Dan Siapa Pun Yang Bisa Mereka Jumpai. Akhirnya Mereka Sepakat Untuk Menyerahkan Urusan Ini Kepada Qois Bin Abdi Yaghuts Yang Oleh Aswad Ditunjuk Sebagai Komandan Tentara. Qois Sendiri Sebenarnya Sangat Membenci Aswad, Namun Ia Menyembunyikan Kebencian Itu Dan Ia Berencana Untuk Membunuhnya. Demikian Halnya Dengan Fairuz Ad - Dailamiy, Posisinya Lemah Di Sisi Aswad. Demikian Juga Dengan Dadzawaih. Tatkala Wabar Bin Yahannas Memberitahu Qois Bin Abdi Yaghuts – Atau Qois Bin Maksyuh — Maka Ia Merasa Ada Sesuatu Yang Turun Dari Langit Kepadanya Dan Ia Pun Setuju Dengan Rencana Mereka Untuk Menghabisi Aswad. Akhirnya Kaum Muslimin Menyepakatinya Dan Saling Berjanji Untuk Itu.Ketika Aswad Mencurigai Hal Itu Di Hatinya, Syetannya Muncul Memberitahukan Sebagian Dari Rencana Kaum Muslimin. Maka Aswad Pun Memanggil Qois Bin Masykuh, Ia Berkata, : “ Wahai Qois, Apa Yang Dikatakan Orang Ini ( Syetan Yang Membisikinya, Pent. ), Tahukah Kamu ? Ia Berkata, : " Kamu Sudah Memuliakan Qois Hingga Ia Bisa Masuk Kepadamu Pada Setiap Tempat Masuk, Lalu Di Saat Dalam Kedudukan Ia Sebanding Denganmu Ia Membelot Memusuhimu Dan Menggoyang Kekuasaanmu Dan Menyimpan Rencana Untuk Berkhianat. " Sungguh Ia Mengatakan, : ‘Hai Aswad, Hai Aswad, Hai Jelek, Hai Jelek.’ Maka Tangkaplah Qois, Kalau Tidak Dia Akan Menggulingkanmu Dan Memutus Hatimu. ”


Mendengar Itu Qois Berkata, – Sambil Bersumpah Dusta —, : “ Demi Pemilik Kerudung, Sungguh Engkau Terlalu Mulia Bagiku Sehingga Aku Berani Merencanakan Hal Itu Kepadamu. ” Mendengar Itu, Aswad Berkata, : “ Aku Tidak Akan Menyangkamu Berbohong Kepada Malaikat, Benarlah Malaikat Itu Dan Ia Tahu Sekarang Kamu Sudah Bertaubat Dari Apa Yang Sudah Dia Lihat Darimu. ” Maka Qois Keluar Dari Tempat Aswad Dan Mendatangi Teman - Temannya, Fairuz Dan Dadzuwaih, Dan Memberitahukan Apa Yang Dikatakan Aswad Kepadanya Dan Bagaimana Ia Menjawab. Maka Mereka Berkata, : “ Sesungguhnya Kita Semua Dalam Kondisi Harus Hati - Hati, Adakah Ide ? ” Ketika Mereka Tengah Asyik Berunding, Tiba - Tiba Datang Utusan Aswad Dan Menghadapkan Mereka Kepadanya, Ia Berkata, : “ Bukankah Aku Telah Memuliakan Kalian Atas Kaum Kalian. ” Mereka Menjawab, : “ Benar, Tuan. ”“ Lantas Mengapa Aku Mendengar Sesuatu Yang Kurang Beres Dari Kalian ? ”“ Maafkanlah Kami Kali Ini. ” Pinta Mereka.“ Jangan Sampai Aku Mendengar Lagi Sesuatu Dari Kalian, Sehingga Aku Harus Memaafkan Kalian Lagi, ”



Kata Aswad.Maka Kami Berhasil Lolos Dan Keluar Dari Tempat Aswad, Hampir Saja Kami Celaka, Karena Aswad Mulai Ragu Terhadap Kami Dan Kami Berada Dalam Bahaya. Ketika Kami Masih Dalam Kondisi Mengkhawatirkan Seperti Itu, Datanglah Surat - Surat Dari Amir Bin Syah, Pemimpin Hamdan, Dari Dzi Dzulaim Dan Dzi Kila‘ Serta Pemimpin - Pemimpin Di Yaman Lainnya, Yang Isinya Mereka Menyatakan Kepatuhan Dan Kesediaan Membantu Kepada Kami Untuk Melawan Aswad. Hal Itu Terjadi Setelah Mereka Mendengar Surat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Yang Memerintahkan Untuk Memerangi Aswad Al - Unsiy. Maka Kami Balas Surat Itu Yang Mana Kami Berpesan Agar Mereka Tidak Membicarakannya Kepada Siapa Pun Sampai Kami Mematangkan Rencana.


Qois Bercerita, : “ Tak Lama Setelah Itu, Aku Masuk Menemui Istri Aswad, Zaad, Kukatakan, : “ Wahai Sepupuku, Engkau Tahu Sendiri Musibah Yang Ditimbulkan Lelaki Ini Terhadap Kaummu. Ia Telah Membunuh Suamimu Dan Menimpakan Pembunuhan Kepada Kaummu Serta Melecehkan Kaum Wanita. Maka Tidakkah Engkau Mempunyai Rencana Untuk Menghabisinya ? ” Zaad Berkata, : “ Lantas, Apa Yang Kau Maksud ? Mengusirnya Atau Membunuhnya ? ” “Membunuhnya, ” Jawab Qois. Zaad Berkata, : “ Benar, Demi Allah, Tidaklah Allah Menciptakan Orang Yang Lebih Kubenci Daripada Dia, Sungguh Ia Tidak Melaksanakan Hak Allah Dan Tidak Meninggalkan Perbuatan Haram. Nanti, Jika Kalian Benar - Benar Berkeinginan Melakukannya, Beritahu Aku, Aku Akan Memberi Informasi Tentang Dia Kepada Kalian. ” Setelah Itu Aku Keluar – Kata Qois — Dan Ternyata Fairuz Dan Dadzuwaih Sudah Menungguku, — Mereka Sudah Ingin Sekali Menjalankan Misinya —. Tapi, Tak Berselang Lama Mereka Berkumpul, Tiba - Tiba Aswad Kembali Memanggil Qois. Setelah Itu Aswad Mengadakan Pertemuan Dengan Sepuluh Orang Dari Kaumnya, Ia Berkata, : “ Bukankah Telah Kuberitahukan Kebenaran Kepadamu Tapi Kamu Menyangkalnya. Sungguh Telah Dikatakan, Hai Jelek ….. Hai Jelek ….. Jika Kamu Tidak Memenggal Qois, Ia Akan Memenggalmu Dengan Tangannya. ” Sampai - Sampai Qois Merasa Ia Pasti Akan Dibunuh. Maka Ia Berkata, : “ Sungguh, Tidak Layak Aku Membunuh Jika Engkau Adalah Utusan Allah, Sungguh Engkau Membunuhku Itu Lebih Kusukai Daripada Setiap Hari Aku Mengalami Kematian Yang Biasa. ” Akhirnya Hati Aswad Luluh Dan Memerintahkan Qois Untuk Pulang. Qois Segera Menemui Teman - Temannya, Ia Berkata, : “ Kerjakan Misi Kalian Sekarang. ” Lagi - Lagi Ketika Mereka Tengah Asyik Berunding Di Depan Pintu Rumah Aswad, Tiba - Tiba Aswad Keluar Memergoki Mereka, Kebetulan Saat Itu Sudah Dikumpulkan Seratus Hewan, Terdiri Dari Sapi Dan Unta. Maka Aswad Berdiri Sambil Membuat Sebuah Garis, Sementara Di Belakangnya Diambil Seekor Hewan Dari Hewan - Hewan Tadi.


Maka Aswad Menyembelihnya Tanpa Membiarkan Kepalanya Tergantung Dan Tertahan. Ia Sama Sekali Tidak Melewati Garis Yang Ia Buat Tadi. Hewan Itu Pun Menggelepar - Gelepar Sebelum Akhirnya Nyawanya Melayang. Qois Berkata, : “ Sungguh Aku Belum Pernah Melihat Kejadian Yang Lebih Menjijikkan Dan Mengerikan Daripada Itu. ” Setelah Itu Aswad Berkata, : “ Benarkah Berita Yang Sampai Kepadaku Tentang Dirimu, Wahai Fairuz ? Sungguh Aku Benar - Benar Ingin Menyembelihmu Dan Kususulkan Engkau Dengan Hewan Tadi Dan Kuperangi Kamu.” Fairuz Menjawab, : “ Anda Telah Memilih Kami Sebagai Mertuamu Dan Anda Telah Melebihkan Kami Dengan Menyerahkan Urusan Anak - Anak Kepada Kami. Kalau Bukan Karena Anda Nabi, Kami Tidak Akan Menjual Bagian Kami Kepada Anda Sedikit Pun. Bagaimana Tidak, Sementara Telah Terkumpul Pada Diri Anda Urusan Dunia Akhirat. Maka Janganlah Anda Percayai Berita Miring Tentang Kami Yang Sampai Kepada Anda, Sesungguhnya Kami Selalu Dalam Posisi Yang Anda Sukai. ” Akhirnya Aswad Ridha Kepadanya Dan Memerintahkannya Untuk Membagi - Bagikan Daging Hewan - Hewan Tadi, Maka Fairuz Membagi - Bagikannya Kepada Penduduk Shon‘a’. Setelah Itu, Fairuz Buru - Buru Kembali Menghadap Aswad. Tetapi Ternyata Ada Lagi Orang Yang Memprovokasi Aswad Tentang Fairuz Dan Berusaha Membunuhnya.


Fairuz Mendengar Hal Itu, Tiba - Tiba Aswad Berkata, : “ Aku Akan Membunuhnya Besok Dan Teman - Temannya, Maka Bawalah Ia Besok Ke Mari. ” Begitu Menoleh, Ternyata Fairuz Sudah Ada Di Situ, Ia Berkata, : “ Ada Apa ? ” Maka Fairuz Melaporkan Pembagian Daging Tadi. Setelah Itu, Aswad Masuk Rumahnya Sementara Fairuz Kembali Menemui Teman - Temannya Dan Memberitahu Mereka Tentang Apa Yang Baru Saja Dia Dengar Dan Dikatakan Perihal Dirinya. Akhirnya Mereka Semua Sepakat Untuk Kembali Menagih Janji Isteri Fairuz Yang Akan Membantu Mereka. Maka Salah Satu Dari Mereka, Yaitu Fairuz, Masuk Menemuinya, Wanita Itu Berkata, : “ Di Perkampungan Ini, Tidak Ada Satu Rumah Pun Melainkan Dijaga Sekelilingnya Oleh Para Penjaga, Selain Rumah Aswad ; Sesungguhnya Rumah Itu Bagian Belakangnya Menghadap Ke Jalan Ini Dan Itu. Maka Bila Kalian Telah Memasuki Waktu Sore, Lubangilah Rumah Itu Dari Dalam Di Saat Tidak Dijaga Oleh Para Penjaga. Dan Membunuhnya Itu Bukanlah Perkara Yang Sulit. Nanti Saya Akan Letakkan Di Dalam Rumah Itu Sebuah Lampu Dan Senjata. ” Ketika Fairuz Keluar Dari Rumahnya, Aswad Memergokinya. Ia Berkata, : “ Mengapa Kamu Masuk Ke Tempat Keluargaku ? Aswad Menggerak - Gerakkan Kepalanya, Dan Dia Terkenal Sebagai Lelaki Yang Bengis. Tiba - Tiba Isterinya Berteriak Hingga Membuat Aswad Kaget Dan Lengah Dan Tidak Tahu Kalau Itu Fairuz. Kalau Bukan Karena Itu, Tentu Ia Sudah Membunuhnya. Isterinya Berkata, : “ Sepupuku Datang Berkunjung. ” Aswad Berkata, : “ Diam Kamu, Aku Tidak Peduli Denganmu, Aku Telah Memberikannya Kepadamu. ”


Maka Fairuz Segera Keluar Menemui Teman - Temannya Dan Mengatakan, : “ Selamat ..… Selamat .… ” Ia Memberitahukan Kejadian Yang Baru Saja Ia Alami. Akhirnya Mereka Kebingungan, Apa Yang Harus Dilakukan. Maka Isteri Aswad Mengirim Utusan Untuk Menyampaikan Pesan, : “ Jangan Mengurungkan Tekad Kalian ..… ” Kemudian Masuklah Fairuz Ad - Dailamiy Menemuinya Untuk Memastikan Informasi Tentangnya. Lalu Mereka Masuk Ke Dalam Rumah Itu Dan Melubangi Bagian Dalamnya Dan Menggantinya Dengan Tanah Agar Mereka Mudah Membongkarnya Dari Luar. Setelah Itu, Fairuz Masuk Secara Terang - Terangan Menemui Istri Aswad Layaknya Orang Yang Berkunjung, Tak Lama Kemudian Datanglah Aswad Ia Berkata, : “ Apa - Apaan Ini ? ” “ Dia Adalah Saudara Sesusuanku, Dia Juga Sepupuku. ” Jawab Isterinya. Maka Aswad Membentaknya Dan Mengusirnya, Akhirnya Fairuz Kembali Kepada Teman - Temannya. Ketika Malam Tiba, Mereka Membongkar Lubang Rumah Yang Sudah Mereka Buat Tadi, Lalu Mereka Memasukinya Dan Di Sana Sudah Ada Lampu Di Bawah Sebuah Mangkuk Besar. Maka Fairuz Ad - Dailamiy Menghampirinya Sementara Aswad Tidur Di Atas Kasur Dari Sutera, Kepalanya Tertutup Oleh Badannya Dalam Keadaan Mabuk Dan Mendengkur. Sementara Isterinya Duduk Di Sampingnya. Ketika Fairuz Berdiri Di Depan Pintu, Syetan Membangunkan Aswad Dan Mendudukkannya Serta Membuatnya Berbicara Melalui Lidahnya Dalam Kondisi Ia Masih Mendengkur, Ia Berkata, : “ Apa Urusanku Denganmu Wahai Fairuz ? ” Melihat Itu, Fairuz Khawatir Dirinya Dan Wanita Itu Akan Binasa, Maka Segera Ia Menyerang Aswad Dan Bergulat Dengannya Sementara Aswad Sulit Dijinakkan Seperti Unta. Kemudian Fairus Berhasil Memegang Kepalanya Hingga Akhirnya Ia Hantam Lehernya Dan Ia Injakkan Lututnya Di Punggungnya Sampai Akhirnya Ia Berhasil Membunuhnya. Begitu Selesai, Ia Berdiri Untuk Keluar Menemui Teman - Temannya Dan Memberitahu Mereka. Tapi Istri Aswad Menarik Baju Belakangnya Dan Berkata, : “ Ke Mana Kamu Mau Meninggalkan Saudari Mahrammu ? ”



Ia Mengira Aswad Belum Terbunuh. Fairuz Berkata, : “ Aku Mau Keluar Memberi Tahu Teman - Temanku Bahwa Aswad Sudah Terbunuh.”Tak Lama Kemudian, Mereka Masuk Ke Tempat Aswad Untuk Memenggal Kepalanya. Tapi Tiba - Tiba Syetannya Aswad Menggerak - Gerakkannya Hingga Ia Bergoncang Sampai Mereka Tidak Bisa Mengendalikannya, Hingga Akhirnya Dua Orang Berhasil Menduduki Punggungnya Dan Isterinya Menjambak Rambutnya.


Kemudian Aswad Meraung - Raung Dengan Lidahnya Maka Fairus Memotong Lidahnya Sementara Yang Lain Memenggal Lehernya Hingga Aswad Melenguh Seperti Melenguhnya Sapi Dengan Suara Paling Keras. Mendengar Itu, Para Penjaga Memasuki Ruangan Dan Berkata, : “ Suara Apa Itu ? ” Isterinya Menyahut, : “ Nabi Sedang Menerima Wahyu. ” Akhirnya Mereka Kembali. Sementara Qois, Dadzuwaih Dan Fairuz Berunding Bagaimana Mengumumkan Hal Itu Kepada Para Pengikut Aswad. Akhirnya Mereka Sepakat Jika Tiba Waktu Pagi, Mereka Akan Mengumandangkan Syiar Yang Biasa Dipakai Untuk Mengumpulkan Mereka Dan Kaum Muslimin. Dan Benar, Keesokan Harinya Salah Satu Dari Ketiganya – Yaitu Qois — Berdiri Di Atas Pagar Benteng Dan Meneriakan Syiar Yang Biasa Dipakai Untuk Mengumpulkan Mereka. Dan Berkumpullah Kaum Muslimin Dan Orang - Orang Kafir ( Pengikut Asli Aswad, Pent. ) Di Sekeliling Benteng. Maka Qois – Ada Juga Yang Berpendapat Wabar Bin Yahnas — Mengumandangkan Suara Adzan Dan Mengucapkan, : “ Aku Bersaksi Muhammad Adalah Utusan Allah Dan Orang Terlantar Ini ( Aswad, Pent ) Adalah Pendusta. ” Setelah Itu Ia Lempar Kepalanya Ke Tengah - Tengah Mereka, Maka Para Pengikutnya Pun Menyerah, Orang - Orang Menangkapi Mereka Dan Memburu Mereka Di Setiap Jalan Untuk Menjadikan Mereka Sebagai Tawanan.


Dan Menanglah Islam Serta Para Pemeluknya, Para Wakil Rasulullaah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Kembali Kepada Jabatan Mereka Semula. Kemudian, Ketiga Orang Itu Berselisih Tentang Siapa Yang Akan Menerima Tampuk Kepemimpinan, Tapi Akhirnya Mereka Sepakat Untuk Menyerahkannya Kepada Muadz Bin Jabal, Ia Shalat Mengimami Orang - Orang. Kemudian Mereka Menulis Berita Kepada Rasulullaah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Yang Di Malam Hari Sebelumnya Allah Telah Memberitahu Beliau, Sebagaimana Dikatakan Oleh Saif Bin Umar At - Tamimiy Dari Abu `l-Qosim Asy - Syinawiy Dari Al -‘Allal Bin Ziyad Dari Ibnu ‘Umar, : " Bahwasanya Datang Berita Kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Dari Langit Di Malam Ketika Aswad Al - Unsiy Terbunuh, Agar Beliau Sampaikan Berita Gembira Itu Kepada Kami. Beliau Bersabda, : “ Al -‘Unsiy Telah Terbunuh Tadi Malam, Dia Dibunuh Seorang Lelaki Penuh Berkah Dari Keluarga Yang Diberkahi, ” Ditanyakan, : “ Siapa Dia Wahai Rasulullaah ? ” Beliau Bersabda, : “ Fairuz, Fairuz. ”


Ibnu Katsir Rahimahullaah Berkata, : “ Dikatakan Bahwa Masa Ia Berkuasa Sejak Ia Menang Hingga Terbunuh Adalah Tiga Bulan, Ada Juga Yang Mengatakan Empat Bulan. Wallahu A‘lam. ” Selesai Perkataan Ibnu Katsir.


Bukhari Membuat Bab Khusus Dalam Kitab Al - Maghaziy Di Dalam Shahih-nya Tentang Kisah Aswad, Dia Berkata, : “ Ubaidullah Bin Abdillah Berkata, : " Aku Bertanya Kepada Abdullah Bin Abbas Tentang Mimpi Rasulullaah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Yang Ia Ceritakan, Maka Ibnu Abbas Radhiyallaahu 'Anhu Berkata, : “ Diceritakan Kepadaku Bahwa Rasulullaah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Bersabda, : “ Ketika Aku Sedang Tidur, Diperlihatkan Kepadaku Seolah Diletakkan Di Tanganku Dua Perhiasan Dari Emas Maka Aku Memutuskannya Dan Membencinya. Setelah Itu Aku Diperintahkan Untuk Meniupnya Hingga Keduanya Terbang. Maka Aku Menakwilkan Bahwa Kedua Perhiasan Itu Adalah Dua Pendusta Yang Akan Muncul. ” Maka Ubaidullah Berkata, : “ Salah Satunya Adalah Al - Unsiy Yang Dibunuh Oleh Fairuz Di Yaman, Satunya Lagi Adalah Musailamah Al - Kadzzab. ”


Ibnu Taimiyah Rahimahullaah Berkata, : “ Kemudian Fairuz Ad - Dailamiy Melakukan Perlawanan Kepada Al - Aswad Al - ‘Unsiy Hingga Ia Berhasil Membunuhnya, Dan Datanglah Berita Terbunuhnya Aswad Kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Ketika Beliau Sedang Sakit Menjelang Wafat. Kemudian Beliau Keluar Dan Memberitahu Para Shahabatnya Tentang Itu Dan Bersabda, : “ Telah Terbunuh Aswad Al - Unsiy Tadi Malam, Ia Dibunuh Oleh Seorang Lelaki Shaleh Dari Kaum Yang Shaleh. ” Dan Kisah Tentang Ini Cukup Masyhur. ”


Ath - Thabariy Rahimahullaah Menyebutkan, : Bahwa Fairuz Dan Teman - Temannya Melakukan Muslihat Terhadap Aswad Dan Menampakkan Seolah Mereka Mengikutinya Hingga Mereka Berhasil Membunuhnya Secara Diam - Diam. Dan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Telah Memuji Fairuz Dan Dikatakan Bahwa Kabar Tentang Mereka Telah Sampai Kepada Beliau Melalui Wahyu Di Malam Ia Meninggal.”


DALIL KESEPULUH :


MEMBALAS DENGAN PERLAKUAN YANG SAMA ( AL - MU'AQOBAH BI 'I-MITSL )


Allah Ta‘ala Berfirman, :فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ“ ..… Oleh Sebab Itu, Barangsiapa Yang Menyerang Kamu, Maka Seranglah Ia, Seimbang Dengan Serangannya Terhadapmu ..… ” ( QS. Al - Baqarah : 194 ).


وَالَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ الْبَغْىُ هُمْ يَنتَصِرُونَ وَجَزَآؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةً مِّثْلَهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الظَّالِمِينَ وَلَمِن انتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُوْلَئِكَ مَاعَلَيْهِم مِّن سَبِيلٍ إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي اْلأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“ Dan ( Bagi ) Orang - Orang Yang Apabila Mereka Diperlakukan Dengan Zalim Mereka Membela Diri. Dan Balasan Suatu Kejahatan Adalah Kejahatan Yang Serupa, Maka Barang Siapa Memaafkan Dan Berbuat Baik, Pahalanya Atas ( Tanggungan ) Allah, Sesungguhnya Dia Tidak Menyukai Orang - Orang Yang Zalim. Dan Sesungguhnya Orang - Orang Yang Membela Diri Sesudah Teraniaya, Tidak Ada Satu Dosa Pun Terhadap Mereka. Sesungguhnya Dosa Itu Atas Orang - Orang Yang Berbuat Zalim Kepada Manusia Dan Melampaui Batas Di Muka Bumi Tanpa Hak, Mereka Itu Mendapat Azab Yang Pedih. ” ( QS. Asy - Syura : 39 – 42 ).


وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَاعُوقِبْتُمْ بِهِ“ ..… Dan Jika Kamu Memberikan Balasan, Maka Balaslah Dengan Balasan Yang Sama Dengan Siksaan Yang Ditimpakan Kepadamu …” ( QS. An - Nahl : 126 ).


Ayat - Ayat Ini Berlaku Umum Untuk Semua, Kasus Yang Menjadi Penyebab Turunnya Tidak Bisa Mengkhususkannya. Sebab, Dalam Sebuah Kaidah Syar‘iy Dikatakan, : “ Al - ‘Ibratu Bi ‘Umuumi `l- Lafdzi, Laa Bi Khushuusi `S - Sabaab. ” ( Yang Dijadikan Patokan Adalah Keumuman Lafadz, Bukan Kekhususan Sebab ). Sehingga Dengan Demikian, Kaum Muslimin Boleh Melakukan Hal Serupa Terhadap Apa Saja Yang Dilakukan Musuh Terhadap Mereka. Artinya, Jika Mereka Meng - Ightiyal Para Mujahid Kita Maka Kita Pun Meng - Ightiyal Mereka. Jika Mereka Mencincang Kaum Muslimin, Kita Boleh Mencincang Mereka. Jika Mereka Sengaja Menjadikan Wanita Dan Anak Kecil Sebagai Target Serangan Hingga Terbunuh, Maka Kita Kaum Muslimin Dipersilahkan Membalas Dengan Tindakan Yang Sama Dengan Menjadikan Wanita Dan Anak - Anak Musuh Sebagai Target Untuk Dibunuh, Berdasarkan Keumuman Ayat - Ayat Di Atas.




Ibnu `l-Qoyyim Rahimahullaah Berkata, : “ Firman Allah, : “ … Maka Seranglah Ia, Seimbang Dengan Serangannya Terhadapmu … ”, Kemudian Firman-Nya, : “ ….. Dan Balasan Sebuah Kejahatan Adalah Kejahatan Yang Serupa ….. ” Kemudian Firman-Nya, : “ Dan Jika Kamu Memberikan Balasan, Maka Balaslah Dengan Balasan Yang Sama Dengan Siksaan Yang Ditimpakan Kepadamu .… ” Mengandung Makna Bolehnya Melakukan Semua Ini, Yaitu Membalas Dengan Balasan Serupa Dalam Urusan Nyawa, Kehormatan Dan Harta. Para Fuqaha Bahkan Menegaskan Bolehnya Membakar Lahan Pertanian Orang - Orang Kafir Dan Membabat Pepohonan Mereka Jika Mereka Memperlakukan Kita Seperti Itu, Dan Ini Adalah Masalah Yang Sama. Allah Subhanahu Wa Ta‘ala Sendiri Mengizinkan Para Shahabat Menebangi Pohon Kurma Orang - Orang Yahudi Dikarenakan Dalam Hal Itu Ada Kehinaan Bagi Mereka. Dan Ini Menunjukkan Bahwa Allah Subhanahu Wa Ta‘ala Menyukai Dan Mensyariatkan Kehinaan Orang Jahat Dan Dzolim. Jika Membakar Harta Orang Yang Melakukan Ghulul ( Mengambil Harta Rampasan Perang Sebelum Dibagikan ) Saja Boleh Dikarenakan Ia Telah Mengkhianati Harta Ghanimah Kaum Muslimin, Maka Membakar Hartanya Jika Ia Membakar Harta Orang Muslim Yang Dilindungi Tentu Lebih Layak Untuk Diperbolehkan. Jika Dalam Harta Yang Menjadi Hak Allah, Yang Pemberiannya Lebih Banyak Daripada Penagihannya, Maka Dalam Harta Yang Menjadi Hak Seorang Hamba Yang Pelit Tentu Lebih Layak.


Juga Allah Subhanahu Wa Ta'ala Telah Mensyariatkan Hukum Qishosh Dalam Rangka Menakuti - Nakuti Jiwa Agar Tidak Melakukan Perbuatan Aniaya, Padahal Bisa Saja Dia Cukup Mewajibkan Membayar Diyat Untuk Menebus Kedzaliman Pelaku Kejahatan Dengan Harta. Akan Tetapi Apa Yang Allah Syariatkan Lebih Sempurna Dan Lebih Baik Bagi Para Hamba Serta Lebih Bisa Menyembuhkan Kedongkolan Dalam Hati Orang Yang Dizalimi, Di Samping Lebih Menjaga Nyawa Dan Rusaknya Anggota Tubuh. Jika Tidak Seperti Ini, Maka Orang Yang Membunuh Orang Lain Atau Mematahkan Salah Satu Anggota Badannya, Ia Harus Dibunuh Atau Dipotong Juga Anggota Badannya Dan Masih Harus Membayar Diyatnya. Namun Hikmah, Kasih Sayang Dan Kemaslhatan Menolak Hal Itu. Hal Yang Serupa Juga Berlaku Pada Tindak Kezaliman Terhadap Harta. ”


JIKA ORANG MUSLIM SAJA BISA DIQISHOSH KEPADA SESAMA MUSLIM DAN MEMBALAS TINDAKAN ORANG KAFIR HARBY LEBIH BOLEH LAGI.


Dengan Demikian, Kita Harus Tahu Bahwa Jika Orang Muslim Saja Bisa Diqishosh Dengan Hukuman Serupa Ketika Ia Berbuat Jahat Kepada Sesama Muslim. Maka Tentu Saja Membalas Tindakan Orang Kafir Harbiy Terhadap Kaum Muslimin Dengan Balasan Serupa Lebih Boleh.


Nah, Jika Dengan Berdalih Menggulingkan Saddam Amerika Boleh Membunuh 1.732.000 Nyawa Selama Masa Embargo Terhadap Irak Dan Hingga Kini Masih Berlangsung – Padahal Sebenarnya Urusan Utamanya Lebih Besar Dari Dalihnya Tersebut —, Ia Juga Bisa Membunuh Ribuan Orang Di Afghanistan Karena Keberadaan Kepemimpinan Jihad Di Sana, Dan Masih Banyak Lagi Di Tempat Lain ..… Lantas Mengapa Kita Tidak Boleh Membunuh Mereka, Membombardir Mereka, Menjadikan Mereka Sebagai Target Serangan, Atau Meng - Ightiyal Mereka Sehingga Kita Mencapai Jumlah Yang Seimbang Dengan Yang Mereka Telah Bunuh ? Kenapa Kita Tidak Membunuh Mereka Karena Adanya Bush, Blair, Dan Sharon Sebagaimana Mereka Membunuhi Kita Karena Si Fulan Dan Si Fulan ?Oleh Karena Itu, Kita Harus Mengambil Jatah Yang Sama. Sebagaimana Mereka Membunuh, Mereka Dibunuh. Sebagaimana Mereka Melakukan Ightiyalat, Mereka Pun Di - Ightiyalat.


Wallahu A‘lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar