Assalamu'alaikum....
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi perumpamaan dengan bersabda:
“Sesungguhnya, perumpamaan teman baik dengan teman buruk, seperti
penjual minyak wangi dan pandai besi; adapun penjual minyak, maka kamu
kemungkinan dia memberimu hadiah atau engkau membeli darinya atau
mendapatkan aromanya; dan adapun pandai besi, maka boleh jadi ia akan
membakar pakaianmu atau engkau menemukan bau anyir” (HR Bukhari dan
Muslim)
Lebih jauh, beliau menyatakan; “Seseorang tergantung
agama temannya, maka hendaklah seorang di antara kalian melihat teman
bergaulnya” (HR Abu Dawud, An-Nasa’i)
1. Berakidah Lurus
Ini
menjadi syarat mutlak dalam memilih teman. Dia harus beragama Islam dan
berakidah Ahlus sunnah wa -jamâ'ah. Bukankah kita semua tahu kisah
kematian Abu Thalib, paman Rasulullah?
Ya, dalam keadaan
terbaring dan menghadapi detik-detik kematian, ada tiga orang yang
menyertainya. Mereka adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ,
Abu Jahl dan 'Abdullah bin Abi Umayyah, dua orang terakhir ini adalah
tokoh kaum kafir Quraisy. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengajak pamannya dengan berseru, "Paman! Katakanlah lâ ilâha illallâh!
Satu kalimat yang akan ku jadikan bahan pembelaan bagimu di hadapan
Allah." Dua tokoh kafir itu menimpali, "Abu Thalib! Apakah kamu membenci
agama Abdul-Muththalib?"
Tanpa henti, Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam "menawarkan" kalimat itu dan sebaliknya mereka berdua
juga terus melancarkan pengaruh. Sampai akhirnya Abu Thalib masih enggan
mengucapkan lâ ilâha illallâh dan tetap memilih agama
Abdul-Muththalib.[Lihat al-Bukhâri no. 1360, Muslim no. 131 dan
an-Nasâ'i no.2034] Ia pun mati dalam kekufuran.
Cobalah lihat
buruknya pengaruh orang-orang yang ada di sekitarnya! Padahal Abu Thalib
sudah membenarkan ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di
dalam hatinya.
2. Bermanhaj Lurus
Ini juga menjadi sifat
mutlak yang kedua. Oleh karena itu, Islam melarang berteman dengan
ahlul-bid'ah dan ahlul-hawa'. Ibnu 'Abbâs Radhiyallahu anhuma berkata,
"Janganlah kalian duduk-duduk bersama dengan ahlulhawa! Sesungguhnya
duduk-duduk dengan mereka menimbulkan penyakit dalam hati (yaitu bid'ah
).
"[Asy-Syarî'ah, Imam al-Ajurri hlm. 61 dan al-Ibânah al-Kubrâ,
Imam Ibnu Baththah (2/ 438). Nukilan dari Mauqif Ahlis Sunnah wa
Jjamâ’ah min Ahlil hawâ' wal Bida', DR. Ibrâhîm ar-Ruhaili (2/535)]
3. Taat Beribadah Dan Menjauhi Perbuatan Maksiat
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Allah, pada
waktu pagi dan petang, (yang mereka itu) menginginkan wajah-Nya
[al-Kahfi/18: 28]
Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsîr
rahimahullah menyatakan, "Duduklah bersama orang-orang yang mengingat
Allâh, yang ber-tahlîl (mengucapkan lâ ilâha illallâh), memuji,
ber-tasbiih (mengucapkan subhaanallah), bertakbir (mengucapkan Allâhu
akbar) dan memohon pada-Nya di waktu pagi dan petang di antara
hamba-hamba Allâh, baik mereka itu orang-orang miskin atau orang-orang
kaya, baik mereka itu orang-orang kuat maupun orang-orang yang lemah."
4. Berakhlak Terpuji Dan Bertutur Kata Baik
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
Mukmin yang paling sempurna imannya adalah mukmin yang paling baik
akhlaknya [HR Abu Dâwud no. 4682 dan at-Tirmidzi no.1163. (ash-Shahîhah
no. 284)
Al-Ahnaf bin Qais rahimahullah berkata, "Kami dulu
selalu mengikuti Qais bin 'Ashim. Melalui dirinya, kami belajar
kesabaran dan kemurahan hati sebagaimana kami belajar ilmu
fikih."[Al-'Afwu wa al-A'dzâr, Ibni ar-Raqqâm. Nukilan dari Sû'ul
Khuluq, Muhammad Ibrâhîm al-Hamd hlm. 134]
5. Teman Yang Suka Menasehati Dalam Kebaikan
Teman yang baik tentu tidak senang jika kawannya sendiri terjatuh dalam
perbuatan dosa. Jika Anda memiliki teman, tetapi tidak pernah menegur
dan tidak memperdulikan diri Anda ketika melakukan kesalahan, maka perlu
dipertanyakan landasan persahabatan yang mengikat mereka berdua. Ia
bukan seorang teman?
Salah satu ciri orang yang tidak rugi
sebagaimana disebutkan oleh Allah Azza wa Jalla pada surat al-'Ashr,
mereka saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai
saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri [HR. al-Bukhâri no. 13,
Muslim no. 40 , an-Nasâ'i no. 5031, at-Tirmidzi no. 2515 dan Ibnu Mâjah
no. 66]
6. Zuhud Terhadap Dunia Dan Tidak Berambisi Mengejar Kedudukan
Teman yang baik tentu tidak akan menyibukkan saudaranya dengan hal-hal
yang bersifat keduniawian, seperti sibuk membicarakan model-model
handphone, mobil mewah keluaran terbaru dan barang-barang konsumtif yang
menjadi incaran kaum hedonis.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, "Bersikaplah zuhud terhadap dunia, maka Allah akan
mencintaimu. Dan bersikaplah tidak membutuhkan terhadap apa-apa yang
dimiliki manusia, maka manusia akan mencintaimu."[HR. al-Bukhâri no. 13,
Muslim no. 40 , an-Nasâ'i no. 5031, at-Tirmidzi no. 2515 dan Ibnu Mâjah
no. 66]
7. Banyak Ilmu Atau Dapat Berbagi Ilmu Dengannya
Tidak salah lagi, berteman dengan orang-orang yang punya dan mengamalkan
ilmu agama akan memberi pengaruh positif yang besar pada diri kita.
8. Berpakaian Yang Islami
Teman yang baik selalu memperhatikan pakaiannya, baik dari segi
syariat, kebersihan dan kerapiannya. Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah
berkata dalam kitab al-Hilyah, "Perhiasan yang tampak menunjukkan
kecondongan hati. Orang-orang akan mengklasifikasikan dirimu hanya
dengan melihat pakaianmu…Maka pakailah pakaian yang menghiasimu dan
tidak menjelekkanmu, dan tidak menjadi bahan celaan dalam pembicaraan
orang atau bahan ejekan orang-orang tukang cemooh."[At-Ta'lîquts Tsamîn
'ala Syarhi Ibni al'Utsaimîn li Hilyati Thalabil 'Ilmi hlm. 107]
9. Ia Selalu Menjaga Kewibawaan Dan Kehormatan Dirinya Dari Hal-Hal Yang Tidak Layak Menurut Pandangan Masyarakat
Teman yang baik selalu memelihara dirinya dari perkara-perkara
tersebut, kendatipun merupakan hal-hal yang diperbolehkan dalam agama,
bukan maksiat. Seandainya suatu daerah menganggap bahwa main bola sodok
adalah permainan tercela (sebuah aib bagi orang yang ikut bermain), maka
tidak sepantasnya bergaul dengan orang-orang yang suka bermain
permainan itu.
Betapa indah ucapan Imam Syâfi'i rahimahullah :
لَوْ أَنَّ اْلمَاءَ اْلبَارِدَ يَثْلَمُ مِنْ مُرُوْءَتِيْ شَيْئًا مَا شَرِبْتُ اْلمَاءَ إلاَّ حَارًّا
Seandainya air yang dingin merusak kewibawaanku (kehormatanku), maka
saya tidak akan minum air kecuali yang panas saja [ Manâqib asy-Syâfi'I,
Imam ar-Râzy hlm. 85. Nukilan Ma'âlim fi Tharîq Thalabil'ilmi hlm. 166]
10. Sosok Yang Tidak Banyak Bergurau Dan Meninggalkan Hal-Hal Yang Tak Bermanfaat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
Di antara ciri baiknya keislaman seseorang, dia meninggalkan hal-hal yang tak bermanfaat baginya [15]
Memang kelihatannya agak sulit mendapatkan teman ideal sesuai dengan
pemaparan di atas. Akan tetapi, dengan idzin Allah Azza wa Jalla
kemudian dengan usaha yang kuat serta doa kepada Allah, kita akan
mendapatkan orang-orang seperti itu.
Catatan Penting :
Perlu
menjadi catatan, melalui keterangan di atas yang menganjurkan mencari
teman yang berlatar-belakang baik, bukan berarti kita tidak bergaul
dengan orang-orang di sekitar kita. Bukan berarti kita tidak bergaul
dengan orang kafir, ahlul-bid'ah, orang-orang fasik dan orang-orang
berkarakter buruk lainnya. Akan tetapi, pergaulan dengan mereka mesti
dilandasi keinginan dan niat untuk mendakwahi dan memperbaiki mereka.
Dalam masalah ini, kita harus melihat dan mempertimbangkan sisi
kemaslahatan (kebaikan) dan madharat (bahaya) yang akan terjadi pada
diri kita dan orang orang lain di sekitar kita pada saat kita bergaul
dengan mereka. Jika pergaulan kita dengan mereka mendatangkan manfaat
yang besar bagi mereka, maka kita boleh bergaul dengan mereka. Begitu
pula sebaliknya, jika tidak mendatangkan manfaat tetapi justru
mendatangkan bahaya, maka bergaul dengan mereka menjadi perkara
larangan.
Simaklah keterangan Syaikh Muhammad al-'Utsaimîn
rahimahullah berikut, "Jika di dalam pergaulan dengan orang-orang fasik
menjadikan sebab datangnya hidayah baginya, maka tidak mengapa berteman
dengannya. Engkau bisa undang dia ke rumahmu, kamu datang ke rumahnya
atau kamu jalan-jalan bersamanya, dengan syarat tidak mengotori
kehormatan dirimu dalam andangan masyarakat. Betapa banyak orang-orang
fasik mendapatkan hidayah dengan berteman dengan orang-orang yang
baik."[Hadits shahîh riwayat at-Tirmidzi no. 2317 dan Ibnu Mâjah no.
3976]
Di tengah masyarakat, jika Anda tidak memilih teman yang
baik, maka tinggal pilih; Andakah yang akan mempengaruhi orang-orang
untuk menjadi lebih baik atau Andakah menjadi korban pengaruh buruk
lingkungan (kawan-kawan) Ingat! Tidak ada pilihan yang ketiga.
Sholawat serta salam semoga tercurah kepada Junjungan kita Nabi muhammad
shollallahu 'alaihi wa sallam,ahli keluarganya,para sahabatnya dan
orang2 yang mengikuti sunnah2 beliau dg sekuat2nya sampai hari kiamat...
Wallâhul muwaffiq.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar