Jumat, 18 April 2014

KETIKA PARA PEJUANG PENEGAK HUKUM ALLAH DI TUDUH KHAWARIJ....!!! KHAWARIJ




Khawarij, tahukah kalian apa pemahaman Khawarij itu...???

Pemahaman Khawarij adalah pemahaman yang sesat...!!!

Yakni memberontak kepada penguasa umat muslim yang sah...!!!

Dan pemberontakan itu sangat dilarang dalam Islam.

Ulama’ telah menjelaskan bahwa kelompok khawarij adalah salah satu yang memberontak melawan Imam yang benar (Al-Imam Al Haq) pada masa ‘Ali bin Abi Thalib, dan mereka secara terbuka tidak taat kepadanya, dan mereka bersekongkol melawannya.

Jadi kaum yang memberontak kepada pemimpin umat Islam yang sah, adalah seorang yang berpaham khawarij, dan para khawarij dapat dengan mudahnya mengatakan orang yang tak satu jama’ah dengan mereka adalah orang kafir.

Lalu apakah mereka yang memberontak terhadap pemerintah yang berhukum dengan hukum Thaghut adalah khawarij...????

Apakah ana termasuk khawarij karena memberontak terhadap pemerintah Indonesia dengan mengatakannya bahwa Indonesia adalah negara kufur...????

Apakah ana khawarij karena ana mengatakan mereka yang berhukum dengan agama demokrasi adalah kafir...???

Jika kami khawarij, maka dimanakah Imam yang benar saat ini, yang bisa (paling berhak) memberikan label kepada seseorang yang memberontak melawannya sebagai seorang ‘Khawarij’...?? ?

Dimanakah ‘Ali bin Abi Thalib hari ini...???!

Dan jika kami Khawarij, maka siapakah kamu (wahai para rezim dan wahai Ulama yang loyal kepada mereka)?!

Apakah kalian ‘Ali dan Shahabat-shahab atnya...???!

Dan apakah ‘Ali r.a. mengambil hukum kekuasaannya dari undang-undang orang Persia dan orang-orang Roma....????!

Apakah dia memerintah berdasarkan pada “Sosialisme” dan “demokrasi”.... ???

Atau dia adalah seorang penyeru “nasionalisme” dan “kedamaian sosial”....???

Atau pernahkah ‘Ali bersekutu dan mendukung Yahudi...???!

Atau pernahkah ‘Ali meninggalkan Hudud dari Allah dan mengimplementas ikan hukuman yang tidak pernah Allah kirimkan ke muka bumi ini...????

Atau dapatkah itu dikatakan, menyeru untuk menerapkan Khilafah adalah sebuah kejahatan yang tidak bisa dimaafkan...??? ?!

Atau pernahkah ‘Ali berperang melawan kesucian dan kemurnian, menyeru kepada “kebebasan” wanita dan untuk membiarkan wanita bebas untuk melakukan perjalanan....? ??!

Atau apakah ‘Ali salah satu orang yang telah memisahkan Al- Qur’an ke dalam bagian-bagian (yaitu mengimani sebagian dan mengkufuri sebagian)...??? ?

Mereka yang mengatakan: “Tidak ada Islam dalam politik, dan tidak ada politik dalam Islam”...????!

Ketahuilah hai maz'um...!!!! Imam ‘Ali r.a., beliau sama sekali tidak pernah melakukan semua itu.

Tetapi dia yang paling ingin menerapkan hukum Allah, dan memerintah dengan Kitab Allah, serta Sunnah Rasul-Nya Saw..

Sehingga tidak ada keraguan, bahwa seseorang yang memberontak melawan Al Imam Al ‘Adil pada masa Imam Ali r.a dia benar-benar seorang Khawarij....!!!

Maka, seseorang yang memberontak melawan seorang penguasa (yang tidak melaksanakan hukum Islam) bukanlah seorang Khawarij; tetapi dia adalah seorang Muslim, seorang Mu’min, seorang Muttaqi (bertaqwa).

Ibnu Katsir berkata tentang peristiwa tahun 694 H,” Pada tahun itu kaisar Tartar Qazan bin Arghun bin Abgha Khan Tuli bin Jengis Khan masuk Islam dan menampakkan keIslamannya melalui tangan amir Tuzon rahimahullah. Bangsa Tartar atau mayoritas rakyatnya masuk Islam, kaisar Qazan menaburkan emas, perak dan permata pada hari ia menyatakan masuk Islam. Ia berganti nama Mahmud…”

Namun, kaisar ini menolak untuk menerapkan hukum Islam, maka muncullah wacana untuk memerangi mereka, Beliau juga mengatakan dalam Bidayah wa Nihayah, ”Terjadi perdebatan tentang mekanisme memerangi bangsa Tartar, karena mereka menampakkan keIslaman dan tidak termasuk pemberontak.

Mereka bukanlah orang-orang yang menyatakan tunduk kepada imam sebelum itu lalu berkhianat.

Maka syaikh Ibnu Taimiyah berkata, ”Mereka termasuk jenis Khawarij yang keluar dari Ali dan Mu’awiyah dan mereka melihat diri mereka lebih berhak memimpin.

Mereka mengira lebih berhak menegakkan dien dari kaum muslimin lainnya dan mereka mencela kaum muslimin yang terjatuh dalam kemaksiatan dan kedzaliman, padahal mereka sendiri melakukan suatu hal yang dosanya lebih besar berlipat kali dari kemaksiatan umat Islam lainnya.”

Jadi, realitanya, negara ini adalah negara YANG MERASA PALING BERHAK MEMIMPIN DENGAN HUKUM KUFURNYA, MEREKA MENOLAK PEMIMPIN YANG INGIN BERHUKUM DENGAN AL-QUR’AN DAN ASSUNNAH….

Dan begitu juga beberapa ulama-ulama dan tokoh-tokoh publik, mereka membela-bela dan menolong para pemimpin negara ini untuk terus berkuasa dengan hukum kufurnya, dan mereka mengkafirkan, membunuh orang-orang yang ingin menegakkan kepemimpinan dibawah naungan Alquran dan Assunnah.

Maka kubertanya pada kalian… siapakah yang khawarij....???

Maka, seseorang yang membela kehormatan kaum Muslimin, berjihad di jalanNya, dan berada di front terdepan melawan orang-orang kafir, bukanlah seorang Khawarij, tetapi dia adalah seorang Mujahid, seorang Muwahhid, seorang yang selalu ada dalam umat ini, Al Firqotun Najiyah, kelompok yang selamat, dan At Thoifah Al Mansuroh, kelompok yang akan mendapatkan kemenangan dari Allah Swt.

BOLEH MEMBERONTAK PADA PENGUASA...???

Mentaati penguasa merupakan salah satu kewajiban seorang Muslim.

Allah swt berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian, jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.” [QS. al-Nisaa’:59]

Ayat ini menunjukkan bahwa taat kepada para pemimpin adalah wajib, jika mereka sejalan dengan Allah dan RasulNya.

Apabila ia berpaling dari kebenaran, maka tidak ada ketaatan bagi mereka. Ketetapan semacam ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah.”[HR. Ahmad].

Di ayat tersebut juga terkandung rahasia bahwa, yang boleh ditaati hanyalah pemimpin yang beriman, “dan ulil amri di antara kalian”, yang dimaksud “kalian” disini ialah orang beriman, sebagaimana tertera pada kalimat sebelumnya, ”Hai orang-orang yang beriman”…

maka bukankah Allah telah memvonis mereka yang tidak berhukum dengan hukum Allah adalah bukan orang-orang yang beriman.....???

Dituturkan bahwa Maslamah bin Abdul Malik bin Marwan berkata kepada Abu Hazim,”Bukankah engkau diperintahkan untuk mentaati kami, sebagaimana firman Allah, “dan taatlah kepada ulil amri diantara kalian..”

Ibnu Hazim menjawab, “Bukankah ketaatan akan tercabut dari anda, jika anda menyelisihi kebenaran, berdasarkan firman Allah,“jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah, yakni kepada Rasul pada saat beliau masih hidup, dan kepada hadits-hadits Rasul setelah beliau saw wafat..”

Tapi tentu kita tahu, Di dalam hadits-hadits shahih juga dituturkan mengenai kewajiban mentaati penguasa (ulil amri), baik yang adil maupun fasik.

Imam Bukhari menuturkan sebuah riwayat dari Abi Salamah bin ‘Abdirrahman, bahwasanya ia mendengar Abu Hurairah berkata:

“Rasulullah saw telah bersabda, “Siapa saja yang mentaati aku, maka dia telah mentaati Allah swt, dan barang siapa bermaksiat kepadaku, sungguh dia telah bermaksiat kepada Allah. Siapa saja yang mentaati pemimpinku, maka dia telah mentaatiku; dan barangsiapa tidak taat kepada pemimpinku, maka dia telah berbuat maksiat kepadaku..” [HR. Bukhari]

Hisyam bin ‘Urwah meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra, bahwasanya ia menyatakan, bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Setelahku akan ada para penguasa, maka yang baik akan memimpin kalian dengan kebaikannya, sedangkan yang jelek akan memimpin kalian dengan kejelekannya. Untuk itu, dengar dan taatilah mereka dalam segala urusan bila sesuai dengan yang haq. Apabila mereka berbuat baik, maka kebaikan itu adalah hak bagi kalian. Apabila mereka berbuat jelek maka kejelekan itu hak bagi kalian untuk mengingatkan mereka, serta kewajiban mereka untuk melaksanakannya .”

Imam Bukhari menuturkan sebuah hadits dari ‘Abdullah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda kepada kami:

“Kalian akan melihat pada masa setelahku, ada suatu keadaan yang tidak disukai serta hal-hal yang kalian anggap mungkar. Mereka (para shahabat) bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Tunaikanlah hak mereka, dan memohonlah kepada Allah hak kalian.” [HR. Bukhari]

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Abu Raja’, dari Ibnu ‘Abbas, dinyatakan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa membenci sesuatu yang ada pada pemimpinnya, hendaklah ia bersabar. Sebab, tak seorangpun boleh memisahkan diri dari jama’ah, sekalipun hanya sejengkal, kemudian dia mati, maka matinya adalah seperti mati jahiliyyah.” [HR. Bukhari]

Hadits-hadits di atas merupakan hujjah yang sangat jelas wajibnya seorang Muslim mentaati penguasa meskipun ia terkenal fasik dan dzalim.

Bahkan di dalam riwayat-riwayat lain, Rasulullah saw telah memberikan penegasan (ta’kîd) agar kaum Muslim tetap mentaati penguasa dalam kondisi apa pun.

Meskipun kaum Muslim diperintahkan untuk tetap mentaati penguasa dzalim dan fasiq, dan dilarang memerangi dengan pedang, akan tetapi dalam satu kondisi; kaum mukmin wajib memisahkan diri dari mereka, tidak memberikan ketaatan kepada mereka, dan diperbolehkan memerangi mereka dengan pedang, yaitu, jika mereka telah menampakkan kekufuran yang nyata.

Ketentuan semacam ini didasarkan pada riwayat-riwayat berikut ini.

Imam Muslim menuturkan sebuah riwayat, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

“Akan datang para penguasa, lalu kalian akan mengetahui kemakrufan dan kemungkarannya, maka siapa saja yang membencinya akan bebas (dari dosa), dan siapa saja yang mengingkarinya dia akan selamat, tapi siapa saja yang rela dan mengikutinya (dia akan celaka)”. Para shahabat bertanya, “Tidaklah kita perangi mereka?” Beliau bersabda, “Tidak, selama mereka masih menegakkan sholat” Jawab Rasul.” [HR. Imam Muslim]

Dalam hadits ‘Auf bin Malik yang diriwayatkan Imam Muslim, juga diceritakan:

“Ditanyakan,”Ya Rasulullah, mengapa kita tidak memerangi mereka dengan pedang...?!‘ Lalu dijawab, ”Tidak, selama di tengah kalian masih ditegakkan shalat.” [HR. Imam Muslim]

Dalam riwayat lain, mereka berkata:

“Kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, mengapa kita tidak mengumumkan perang terhadap mereka ketika itu?!‘ Beliau menjawab, ‘Tidak, selama mereka masih sholat.”

Tatkala berkomentar terhadap hadits ini, Imam Nawawi, dalam Syarah Shahih Muslim menyatakan:

“Sabda Nabi saw, “(Satakûnu umarâu fa ta’rifûa wa tunkirûn faman ‘arifa faqad bari`a wa man ankara salima, wa lakin man radhiya wa tâba’a, qâlû: afalâ nuqâtiluhum ?

Qâla: Lâ…mâ shallû)”, hadits ini, di dalamnya terkandung mukjizat yang sangat nyata mengenai informasi yang akan terjadi di masa mendatang, dan hal ini telah terjadi sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi saw.

Adapun sabda Rasulullah saw, “(faman ‘arafa faqad bari`a) dan dalam riwayat lain dituturkan, “(faman kariha faqad bari`a).

Adapun riwayat dari orang yang meriwayatkan, “(faman kariha faqad bari`a), maka hal ini sudah sangat jelas. Maknanya adalah, ”Siapa saja yang membenci kemungkaran tersebut, maka terlepaslah dosa dan siksanya.

Ini hanya berlaku bagi orang yang tidak mampu mengingkari dengan tangan dan lisannya, lalu ia mengingkari kemungkaran itu dengan hati. Dengan demikian, ia telah terbebas (dari dosa dan siksa).

Adapun orang yang meriwayatkan dengan redaksi ”(faman ’arafa bari`a), maknanya adalah –Allah swt yang lebih Mengetahui–, ”Siapa saja yang menyaksikan kemungkaran, kemudian ia tidak mengikutinya, maka ia akan mendapat jalan untuk terlepas dari dosa dan siksanya dengan cara mengubah kemungkaran itu dengan tangan dan lisannya.

Dan jika tidak mampu, hendaknya ia mengingkari kemungkaran itu dengan hatinya.

Sedangkan sabda beliau, ”(walakin man radhiya wa tâba’a)”, maknanya adalah, akan tetapi, dosa dan siksa akan dijatuhkan kepada orang yang meridhoi dan mengikuti.

Hadits ini merupakan dalil, bahwa orang yang tidak mampu melenyapkan kemungkaran tidak akan berdosa meskipun hanya sukût (mengingkari kemungkaran dengan diam).

Namun, ia berdosa jika ridho dengan kemungkaran itu, atau jika tidak membenci kemungkaran itu, atau malah mengikutinya.

Adapun sabda Rasulullah saw, ”(Afalâ nuqâtiluhum? Qâla” Lâ, mâ shalluu), di dalamnya terkandung makna sebagaimana disebutkan sebelumnya, yakni tidak boleh memisahkan diri dari para khalifah, jika sekedar dzalim dan fasik, dan selama mereka tidak mengubah salah satu dari sendi-sendi Islam”.

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Ubadah bin Shamit, bahwasanya dia berkata:

“Nabi SAW mengundang kami, lalu kami mengucapkan baiat kepada beliau dalam segala sesuatu yang diwajibkan kepada kami bahwa kami berbaiat kepada beliau untuk selalu mendengarkan dan taat [kepada Allah dan Rasul-Nya], baik dalam kesenangan dan kebencian kami, kesulitan dan kemudahan kami dan beliau juga menandaskan kepada kami untuk tidak mencabut suatu urusan dari ahlinya kecuali jika kalian (kita) melihat kekufuran secara nyata [dan] memiliki bukti yang kuat dari Allah.” [HR. Bukhari]

Hadits-hadits ini telah mengecualikan larangan untuk memisahkan diri dan memerangi penguasa dengan pedang pada satu kondisi, yakni ”KEKUFURAN YANG NYATA”.

Artinya, jika seorang penguasa telah melakukan kekufuran yang nyata, maka kaum Mukmin wajib melepaskan ketaatan dari dan diperbolehkan memerangi mereka dengan pedang.

Sehingga jika kekufuran penguasa bisa dibuktikan dengan ayat-ayat, nash-nash, atau berita shahih yang tidak memerlukan takwil lagi, maka seorang wajib memisahkan diri darinya.

Akan tetapi, jika bukti-bukti kekufurannya masih samar dan masih memerlukan takwil, seseorang tetap tidak boleh memisahkan diri dari penguasa.

Maka ketahuilah, larangan memisahkan diri dari penguasa telah dikecualikan oleh potongan kalimat berikutnya, yakni,” kecuali jika kalian (kita) melihat kekufuran secara nyata dan memiliki bukti yang kuat dari Allah.”[HR. Bukhari].

Ini menunjukkan, bahwa seorang Muslim wajib memisahkan diri dari penguasa, bahkan boleh memerangi mereka dengan pedang, jika telah terbukti dengan nyata dan pasti, bahwa penguasa tersebut telah terjatuh ke dalam “kekufuran yang nyata.”

Bukti-bukti yang membolehkan kaum Muslim memerangi khalifah haruslah bukti yang menyakinkan (qath’iy).

Ini didasarkan pada kenyataan, bahwa kekufuran adalah lawan keimanan.

Jika keimanan harus didasarkan pada bukti-bukti yang menyakinkan (qath’iy), demikian juga mengenai kekufuran. Kekufuran harus bisa dibuktikan berdasarkan bukti maupun fakta yang pasti, tidak samar, dan tidak memerlukan takwil lagi.

Misalnya, jika seorang penguasa telah murtad dari Islam, atau mengubah sendi-sendi ‘aqidah dan syariat Islam berdasarkan bukti yang menyakinkan, maka ia tidak boleh ditaati, dan wajib diperangi.

Sebaliknya, jika bukti-bukti kekufurannya tidak pasti, samar, dan masih mengandung takwil, seorang Muslim tidak diperkenankan mengangkat pedang di hadapannya.

Imam Nawawi, di dalam Syarah Shahih Muslim menyatakan:

Imam Qadliy ‘Iyadl menyatakan, “Para ulama telah sepakat bahwa imamah (pemerintahan) tidak sah diberikan kepada orang kafir.

Mereka juga sepakat, seandainya seorang penguasa terjatuh ke dalam kekafiran, maka ia wajib dimakzulkan.

Beliau juga berpendapat, “Demikian juga jika seorang penguasa meninggalkan penegakkan sholat dan seruan untuk sholat…

Imam Qadliy ’Iyadl berkata, ”Seandainya seorang penguasa terjatuh ke dalam kekufuran dan mengubah syariat, atau terjatuh dalam bid’ah yang mengeluarkan dari hukm al-wilayah (tidak sah lagi mengurusi urusan pemerintahan), maka terputuslah ketaatan kepadanya, dan wajib atas kaum Muslim untuk memeranginya, memakzulkannya, dan mengangkat seorang imam adil, jika hal itu memungkinkan bagi mereka”

Bagaimana mungkin kita taat kepada seorang pemimpin, sedangkan pemimpin kita adalah orang yang memerangi agama kita….???

Bagaimana mungkin kita taat kepada seorang pemimpin, sedangkan pemimpin kita adalah orang yang menjual rahasia dan aset kaum muslimin kepada orang-orang kafir….????

Bagaimana mungkin kita taat kepada seorang pemimpin, sedangkan pemimpin kita adalah orang-orang yang melindungi dan menolong orang kafir yang memerangi umat muslim……???

Bagaimana mungkin kita taat kepada seorang pemimpin, sedangkan pemimpin kita adalah orang yang mencuri (korupsi) harta kaum muslimin…????

Bagaimana mungkin kita taat kepada seorang pemimpin, sedangkan pemimpin kita adalah orang yang mendukung kafir untuk melakukan pembunuhan terhadap seorang muslim...?????! !!!

Bagaimana mungkin Allah memerintahkan untuk taat kepada pemimpin yang seperti itu....????

Sayangnya, ketentuan semacam ini telah dikaburkan dan diselewengkan oleh ulama-ulama suu’yang rela berkhianat terhadap umat Islam untuk melanggengkan eksistensi penguasa dan pemerintahan kufur melalui fatwa-fatwa culas dan penuh dengan pengkhianatan.

Ulama-ulama ini tidak segan-segan dan malu-malu menyerukan kepada umat Islam agar mereka tetap mentaati penguasa-pengua sa sekarang, padahal para penguasa itu telah terjatuh ke dalam “kekufuran yang nyata”.

Dan bukankah sudah jelas tulisan ini mengenai kekufuran pemerintah indonesia?

Wallohu a'lam bhissowab

Kamis, 17 April 2014

Kali Linux Forensics Mode

Assalamui'alaikum....

BackTrack Linux memperkenalkan pilihan “Forensic Boot” untuk sistem operasi yang berlanjut melalui BackTrack 5 dan sekarang ada di Kali Linux. Pilihan “Forensics Boot” telah terbukti menjadi sangat terkenal karena ketersediaan sistem operasi kami yang luas. Banyak orang memiliki beberapa ISO Kali Linux dan ketika kebutuhan forensik muncul, itu cepat dan mudah untuk menggunakan Kali Linux untuk pekerjaan tersebut. Pre-loaded dengan software forensik open source yang paling populer , Kali Linux adalah tools yang berguna ketika Anda perlu melakukan beberapa pekerjaan forensik berbasis open source



Ketika boot ke dalam forensic boot mode, ada beberapa perubahan yang sangat penting yang dibuat.
  1. Pertama, hard disk internal tidak tersentuh. Ini berarti bahwa jika ada partisi swap, itu tidak akan digunakan dan tidak ada disk internal yang akan di mount secara otomatis. Untuk memverifikasi ini, kami mengambil sistem standar dan melepas hard drive. Memasang nya ke paket forensik komersial yang kami ambil hash dari drive nya. kemudian Kami pasang kembali drive ke komputer dan boot up Kali dalam forensic boot mode . Setelah menggunakan Kali untuk beberapa waktu, kami kemudian shutdown sistem itu, lepas hard drive, dan mengambil kembali hash nya. Hash tersebut cocok, mengindikasikan bahwa tidak ada poin yang berubah pada drive secara keseluruhan.
  2. Hal lain yang sama pentingnya, perubahan yang dibuat adalah kami menonaktifkan auto mount beberapa removable media. Sehingga thumb drive, CD, dan sebagainya tidak akan termount otomatis saat dimasukkan. Ide di balik semua ini adalah sederhana: Tidak ada yang harus terjadi untuk media apapun tanpa tindakan pengguna langsung. Apa pun yang Anda lakukan sebagai pengguna ada pada Anda.
Jika Anda tertarik untuk menggunakan Kali Linux untuk forensik di dunia nyata dalam jenis apa pun, kami sarankan agar Anda tidak hanya mengambil kata kami untuk semua ini. Semua tools forensik harus selalu divalidasi untuk memastikan bahwa Anda tahu bagaimana mereka akan berperilaku dalam setiap situasi yang mungkin Anda menempatkan mereka.
Dan akhirnya, karena Kali Linux difokuskan pada tersedianya koleksi terbaik dari tools penetrasi testing berbasis open source , ada kemungkinan bahwa kami mungkin kehilangan tools forensik open source favorit Anda. Jika demikian, Beritahu kami! Kami selalu mencari tools open source berkualitas tinggi yang dapat kami tambahkan ke Kali Linux untuk membuatnya lebih baik.

SIFAT / KARAKTER TEMAN YANG PANTAS DI JADIKAN SAHABAT KARIB

Assalamu'alaikum....



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi perumpamaan dengan bersabda:
“Sesungguhnya, perumpamaan teman baik dengan teman buruk, seperti penjual minyak wangi dan pandai besi; adapun penjual minyak, maka kamu kemungkinan dia memberimu hadiah atau engkau membeli darinya atau mendapatkan aromanya; dan adapun pandai besi, maka boleh jadi ia akan membakar pakaianmu atau engkau menemukan bau anyir” (HR Bukhari dan Muslim)
Lebih jauh, beliau menyatakan; “Seseorang tergantung agama temannya, maka hendaklah seorang di antara kalian melihat teman bergaulnya” (HR Abu Dawud, An-Nasa’i)
1. Berakidah Lurus
Ini menjadi syarat mutlak dalam memilih teman. Dia harus beragama Islam dan berakidah Ahlus sunnah wa -jamâ'ah. Bukankah kita semua tahu kisah kematian Abu Thalib, paman Rasulullah?
Ya, dalam keadaan terbaring dan menghadapi detik-detik kematian, ada tiga orang yang menyertainya. Mereka adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Jahl dan 'Abdullah bin Abi Umayyah, dua orang terakhir ini adalah tokoh kaum kafir Quraisy. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak pamannya dengan berseru, "Paman! Katakanlah lâ ilâha illallâh! Satu kalimat yang akan ku jadikan bahan pembelaan bagimu di hadapan Allah." Dua tokoh kafir itu menimpali, "Abu Thalib! Apakah kamu membenci agama Abdul-Muththalib?"
Tanpa henti, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam "menawarkan" kalimat itu dan sebaliknya mereka berdua juga terus melancarkan pengaruh. Sampai akhirnya Abu Thalib masih enggan mengucapkan lâ ilâha illallâh dan tetap memilih agama Abdul-Muththalib.[Lihat al-Bukhâri no. 1360, Muslim no. 131 dan an-Nasâ'i no.2034] Ia pun mati dalam kekufuran.
Cobalah lihat buruknya pengaruh orang-orang yang ada di sekitarnya! Padahal Abu Thalib sudah membenarkan ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam hatinya.
2. Bermanhaj Lurus
Ini juga menjadi sifat mutlak yang kedua. Oleh karena itu, Islam melarang berteman dengan ahlul-bid'ah dan ahlul-hawa'. Ibnu 'Abbâs Radhiyallahu anhuma berkata, "Janganlah kalian duduk-duduk bersama dengan ahlulhawa! Sesungguhnya duduk-duduk dengan mereka menimbulkan penyakit dalam hati (yaitu bid'ah ).
"[Asy-Syarî'ah, Imam al-Ajurri hlm. 61 dan al-Ibânah al-Kubrâ, Imam Ibnu Baththah (2/ 438). Nukilan dari Mauqif Ahlis Sunnah wa Jjamâ’ah min Ahlil hawâ' wal Bida', DR. Ibrâhîm ar-Ruhaili (2/535)]
3. Taat Beribadah Dan Menjauhi Perbuatan Maksiat
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Allah, pada waktu pagi dan petang, (yang mereka itu) menginginkan wajah-Nya [al-Kahfi/18: 28]
Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsîr rahimahullah menyatakan, "Duduklah bersama orang-orang yang mengingat Allâh, yang ber-tahlîl (mengucapkan lâ ilâha illallâh), memuji, ber-tasbiih (mengucapkan subhaanallah), bertakbir (mengucapkan Allâhu akbar) dan memohon pada-Nya di waktu pagi dan petang di antara hamba-hamba Allâh, baik mereka itu orang-orang miskin atau orang-orang kaya, baik mereka itu orang-orang kuat maupun orang-orang yang lemah."
4. Berakhlak Terpuji Dan Bertutur Kata Baik
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
Mukmin yang paling sempurna imannya adalah mukmin yang paling baik akhlaknya [HR Abu Dâwud no. 4682 dan at-Tirmidzi no.1163. (ash-Shahîhah no. 284)
Al-Ahnaf bin Qais rahimahullah berkata, "Kami dulu selalu mengikuti Qais bin 'Ashim. Melalui dirinya, kami belajar kesabaran dan kemurahan hati sebagaimana kami belajar ilmu fikih."[Al-'Afwu wa al-A'dzâr, Ibni ar-Raqqâm. Nukilan dari Sû'ul Khuluq, Muhammad Ibrâhîm al-Hamd hlm. 134]
5. Teman Yang Suka Menasehati Dalam Kebaikan
Teman yang baik tentu tidak senang jika kawannya sendiri terjatuh dalam perbuatan dosa. Jika Anda memiliki teman, tetapi tidak pernah menegur dan tidak memperdulikan diri Anda ketika melakukan kesalahan, maka perlu dipertanyakan landasan persahabatan yang mengikat mereka berdua. Ia bukan seorang teman?
Salah satu ciri orang yang tidak rugi sebagaimana disebutkan oleh Allah Azza wa Jalla pada surat al-'Ashr, mereka saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri [HR. al-Bukhâri no. 13, Muslim no. 40 , an-Nasâ'i no. 5031, at-Tirmidzi no. 2515 dan Ibnu Mâjah no. 66]
6. Zuhud Terhadap Dunia Dan Tidak Berambisi Mengejar Kedudukan
Teman yang baik tentu tidak akan menyibukkan saudaranya dengan hal-hal yang bersifat keduniawian, seperti sibuk membicarakan model-model handphone, mobil mewah keluaran terbaru dan barang-barang konsumtif yang menjadi incaran kaum hedonis.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Bersikaplah zuhud terhadap dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan bersikaplah tidak membutuhkan terhadap apa-apa yang dimiliki manusia, maka manusia akan mencintaimu."[HR. al-Bukhâri no. 13, Muslim no. 40 , an-Nasâ'i no. 5031, at-Tirmidzi no. 2515 dan Ibnu Mâjah no. 66]
7. Banyak Ilmu Atau Dapat Berbagi Ilmu Dengannya
Tidak salah lagi, berteman dengan orang-orang yang punya dan mengamalkan ilmu agama akan memberi pengaruh positif yang besar pada diri kita.
8. Berpakaian Yang Islami
Teman yang baik selalu memperhatikan pakaiannya, baik dari segi syariat, kebersihan dan kerapiannya. Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata dalam kitab al-Hilyah, "Perhiasan yang tampak menunjukkan kecondongan hati. Orang-orang akan mengklasifikasikan dirimu hanya dengan melihat pakaianmu…Maka pakailah pakaian yang menghiasimu dan tidak menjelekkanmu, dan tidak menjadi bahan celaan dalam pembicaraan orang atau bahan ejekan orang-orang tukang cemooh."[At-Ta'lîquts Tsamîn 'ala Syarhi Ibni al'Utsaimîn li Hilyati Thalabil 'Ilmi hlm. 107]
9. Ia Selalu Menjaga Kewibawaan Dan Kehormatan Dirinya Dari Hal-Hal Yang Tidak Layak Menurut Pandangan Masyarakat
Teman yang baik selalu memelihara dirinya dari perkara-perkara tersebut, kendatipun merupakan hal-hal yang diperbolehkan dalam agama, bukan maksiat. Seandainya suatu daerah menganggap bahwa main bola sodok adalah permainan tercela (sebuah aib bagi orang yang ikut bermain), maka tidak sepantasnya bergaul dengan orang-orang yang suka bermain permainan itu.
Betapa indah ucapan Imam Syâfi'i rahimahullah :
لَوْ أَنَّ اْلمَاءَ اْلبَارِدَ يَثْلَمُ مِنْ مُرُوْءَتِيْ شَيْئًا مَا شَرِبْتُ اْلمَاءَ إلاَّ حَارًّا
Seandainya air yang dingin merusak kewibawaanku (kehormatanku), maka saya tidak akan minum air kecuali yang panas saja [ Manâqib asy-Syâfi'I, Imam ar-Râzy hlm. 85. Nukilan Ma'âlim fi Tharîq Thalabil'ilmi hlm. 166]
10. Sosok Yang Tidak Banyak Bergurau Dan Meninggalkan Hal-Hal Yang Tak Bermanfaat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
Di antara ciri baiknya keislaman seseorang, dia meninggalkan hal-hal yang tak bermanfaat baginya [15]
Memang kelihatannya agak sulit mendapatkan teman ideal sesuai dengan pemaparan di atas. Akan tetapi, dengan idzin Allah Azza wa Jalla kemudian dengan usaha yang kuat serta doa kepada Allah, kita akan mendapatkan orang-orang seperti itu.
Catatan Penting :
Perlu menjadi catatan, melalui keterangan di atas yang menganjurkan mencari teman yang berlatar-belakang baik, bukan berarti kita tidak bergaul dengan orang-orang di sekitar kita. Bukan berarti kita tidak bergaul dengan orang kafir, ahlul-bid'ah, orang-orang fasik dan orang-orang berkarakter buruk lainnya. Akan tetapi, pergaulan dengan mereka mesti dilandasi keinginan dan niat untuk mendakwahi dan memperbaiki mereka.
Dalam masalah ini, kita harus melihat dan mempertimbangkan sisi kemaslahatan (kebaikan) dan madharat (bahaya) yang akan terjadi pada diri kita dan orang orang lain di sekitar kita pada saat kita bergaul dengan mereka. Jika pergaulan kita dengan mereka mendatangkan manfaat yang besar bagi mereka, maka kita boleh bergaul dengan mereka. Begitu pula sebaliknya, jika tidak mendatangkan manfaat tetapi justru mendatangkan bahaya, maka bergaul dengan mereka menjadi perkara larangan.
Simaklah keterangan Syaikh Muhammad al-'Utsaimîn rahimahullah berikut, "Jika di dalam pergaulan dengan orang-orang fasik menjadikan sebab datangnya hidayah baginya, maka tidak mengapa berteman dengannya. Engkau bisa undang dia ke rumahmu, kamu datang ke rumahnya atau kamu jalan-jalan bersamanya, dengan syarat tidak mengotori kehormatan dirimu dalam andangan masyarakat. Betapa banyak orang-orang fasik mendapatkan hidayah dengan berteman dengan orang-orang yang baik."[Hadits shahîh riwayat at-Tirmidzi no. 2317 dan Ibnu Mâjah no. 3976]
Di tengah masyarakat, jika Anda tidak memilih teman yang baik, maka tinggal pilih; Andakah yang akan mempengaruhi orang-orang untuk menjadi lebih baik atau Andakah menjadi korban pengaruh buruk lingkungan (kawan-kawan) Ingat! Tidak ada pilihan yang ketiga.
Sholawat serta salam semoga tercurah kepada Junjungan kita Nabi muhammad shollallahu 'alaihi wa sallam,ahli keluarganya,para sahabatnya dan orang2 yang mengikuti sunnah2 beliau dg sekuat2nya sampai hari kiamat...
Wallâhul muwaffiq.

Mengenal Istilah Istilah Penting Dalam Bahasa Hacking

Assalamu'alaikum.....Jumpan lagi om bareng ane :)
lasung aja ye bro....ke TKP :

MENGENAL BAHASA  DUNIA HACKING


Di Dalam dunia komputer,, selalu berkaitan dengan berbagai bahasa atau istilah-istila. Dunia komputer seakan menjadi ilmu external yang sangat mahal harganya, tidak seperti halnya dengan pembelajaran sekolah biasanya, dalam dunia komputer bukan hanya pengetahuan yang dapat di andalkan tapi kita di ajak agar selalu berpikir logis dan seakan menyusun taktik sehingga menghasilkan tujuan yang di harapkan. jika berbicara dalam bahasa hacking, saat ini ada beberapa hal yang mesti kita ketahui yaitu istilah-istilah dasar yang perlu di pelajari dan di ingat, mengapa? Hal yang pertama yaitu ketika kita di ajak merekrut di dunia hacking mau tidak mau kita secepatnya harus mengetahui bahasa dasar yang sering di pergunakan dalam dunia hacking atau bisa di katakan bekal pertama dan yang kedua karna seiring perkembangan zaman saat ini kita seakan mau tidak mau mengikuti arus perkembangannya. Salah satunya kita selalu di hubungkan dengan dunia maya atau internet.
Ketika itu juga perkembangan masyarakat internet dan IPTEK sehingga menghasilkan masyarakat ahli komputer jahil "hacking" yang ketika anda terjerat maka habislah anda di perdaya mereka dengan pengetahuan nya. Maka dari itu ada beberapa bahasa dasar / istilah-istilah komputer yang dapat kita ketahui



Istilah-Istilah Bahasa Hacking


DDoS : ddos merupakan kegiatan Membuat suatu sistem crash & karena overload sehingga tidak bisa diakses atau mematikan service.
Bug : Bug Kesalahan pada
pemrograman yang menyebabkan sistem dapat dieksploitasi atau error dengan kondisi tertentu. Dalam web hacking, terdapat beberapa bug seperti RFI, LFI, SQLi, RCE, XSS, dll.


Deface : Merubah tampilan halman suatu website secara paksa dan illegal.
Patch Perbaikan terhadap bug dengan mengupdate sistem
yang memiliki vurnerable
system.


Vurnerable : merupakan sebuah Sistem yang memiliki bug sehingga rentan terhadap serangan, dan ketika hal ini terjadi maka dapat di jadikan celah dalam melakukan deface

Shell : adalah Inti dari sistem operasi. Shell dapat digunakan untuk mengendalikan kerja sistem operasinya. Dan ketika shell telah di dapatkan maka dapat dengan mudah mengotak-atik isi bahkan melakukan pencurian data


Phising : Adalah tindakan memperoleh informasi pribadi seperti User ID, password, PIN, nomor rekening bank, nomor kartu kredit Anda secara ilegal.. Phising merupakan hal mudah yang dapat menjerat korban dan menemukan informasinya seperti deface facebook dan lain-lain, contoh phising facebook: Phisng facebook

Fake Login : sama halnya dengan kegiatan phising (memancing) yang merupakan Halaman tiruan/palsu yang
dibuat untuk mengelabui user,
bertujuan untuk mencuri
informasi penting dari user Seperti pada kasus pencurian email n password Friendster, Facebook
RFI : merupakan Penyisipan sebuah file dari luar ke dalam sebuah webserver dengan tujuan script di dalam akan dieksekusi pada saat file yang disisipi di-load.

LFI : Suatu bug dimana kita bisa menginclude kan file yang merupakan file yang berada didalam server yg bersangkutan ke page yang vulnerable LFI maksudnya

Keylogger : Adalah mesin atau software yang dipasang atau diinstal di komputer agar mencatat semua aktivitas yang terjadi pada keyboard dan software ini dapat bekerja diam diam alias tidak terketahui oleh kita secara kasat mata

SQL Injection : merupakan Salah satu jenis penyerangan
yang mengijinkan user tidak sah
(penyerang) untuk mengakses
database server.
Virus : kelihatan tidak asing lagi bagi kita yang merupakan kumpulan bahasa pemprograman yang berupa Kode script jahat yang yang telah di program untuk mengandakan dirinya dan menginfeksi serta menjadi parasit bagi suatu sistem file yang diinfeksinya. Oleh sebab itu kita sering bertanya mengapa virus tidak dapat di basmikan karna virus itu menggandakan dirinya dengan cepat. Sekarang kode jenis ini akan sangat mudah terdeteksi pada aplikasi yang memeriksa crc32 dari dirinya.

Debug : merupakan Kegiatan mencari bug pada aplikasi dan memperbaiki bug yang ditemukan.

Fake Process : merupakan Proses tiruan yang dibuat untuk menyembunyikan nama proses asli, bertujuan untuk mengelabui admin sistem. Seperti mem-fake "./backdoor" menjadi "usr/sbin/httpd", sehingga ketika di "ps -ax",
proses "./backdoor" berubah
menjadi "usr/sbin/httpd" sehingga dapat mengelabui sasarannya


Backdoor : merupakan Pintu belakang untuk masuk ke sistem yang telah brhasil di exploitasi oleh attacker. Bertujuan untuk jalan masuk lagi ke sistem korban sewaktu-waktu

Malicious Code/Script : adalah Kode yang dibuat untuk
tujuan jahat atau biasa disebut
kode jahat.


Worm : merupakan kelom virus yang terbuat dari Kode jahat yang sistim kerjanya seperti cacing, menggandakan diri dan menyebar, tidak menopang pada file. Kebanyakan di Indonesia adalah kode jenis ini.
Trojan :
merupakan Kode jahat yang sistim kerjanya masuk ke dalam sistem untuk mengintip dan mencuri informasi penting yg ada didalamnya kemudian mengirimnya kepada pemilik trojan.


XSS : merupakan suatu cara memasukan code/script kedalam suatu web site dan
dijalankan melalui browser

Sebelum Melangkah Ke Program hacking/melakukan aktifitas hacker Kita Terlebih Dahulu di wajib kan memahami bahasa-bahasa HACKING Seperti di atas.. agar kita tidak Kesulitan Dalam Menjalankan MISI Hacking
Hacker Bukan Aktivitas Kriminal Jadi Jangan Di salah  Gunakan..
THANKS Semoga Artikel di atas Bermanfaat

" SUATU HAL YANG PASTI, BAHWA THAGHUT - THAGHUT DI SELURUH DUNIA TIDAK AKAN MUNGKIN BISA DIBASMI SELAIN DENGAN PEDANG BAGIAN 2 "

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Setelah Itu Ia Keluar Hingga Ia Masih Bisa Shalat Subuh Bersama Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Ketika Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Beranjak Dari Tempat Shalatnya, Ia Melihat Umair, Beliau Bersabda, : “ Apakah Kamu Telah Membunuh Puteri Marwan ? ” Umair Menjawab, : “ Ya, Ayahku Kupertaruhkan Untuk Engkau Wahai Rasulullah. ” Umair Khawatir Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Kaget Dengan Pembunuhan Itu, Maka Ia Berkata, : “ Apakah Aku Harus Menanggung Sesuatu Akibat Peristiwa Itu, Wahai Rasulullah ? ” Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Bersabda, : “ Tidak Akan Ada Dua Kambing Yang Menanduknya. ” Kata - Kata Ini Didengar Pertama Kali Dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Umair Berkata, : “ Setelah Itu Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Menoleh Ke Arah Orang - Orang Di Sekelilingnya, Lalu Bersabda, : “ Jika Kalian Ingin Melihat Orang Yang Menolong Allah Dan Rasul-Nya Secara Diam - Diam, Lihatlah Kepada Umair Bin Adiy. ” Maka Umar Bin Khathab Berkata, : “ Lihatlah Orang Buta Ini, Ia Berjalan Di Malam Hari Dalam Rangka Mentaati Allah. ” Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Bersabda, : “ Jangan Sebut Dia Buta, Sesungguhnya Dia Melihat. ” Ketika Umair Pulang Dari Tempat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Ia Menjumpai Anak - Anak Wanita Itu Menguburkan Ibunya. Begitu Melihat Umair Datang Dari Madinah, Mereka Menghampirinya Dan Mengatakan, : “ Hai Umair, Kamu Telah Membunuhnya ? ” Ia Berkata, : “ Ya, Kalau Kalian Semua Mau Mencelakakan Aku Silahkan Lakukan Dan Tidak Usah Kalian Tunda - Tunda. Demi Dzat Yang Jiwaku Ada Di Tangan-Nya, Seandainya Kalian Mengatakan Seperti Apa Yang Dikatakan Ibu Kalian, Aku Akan Penggal Kalian Semua Dengan Pedangku Ini, Sampai Aku Mati Atau Aku Berhasil Membunuh Kalian. ” Sejak Saat Itu, Islam Mengalami Kemenangan Di Kalangan Bani Khuthmah. Tadinya, Ada Beberapa Orang Dari Kalangan Mereka Yang Menyembunyikan Keislamannya Lantaran Takut Kepada Kaumnya. Atas Kejadian Itu, Hassan Bin Tsabit Melantunkan Sebuah Syair Yang Memuji Perbuatan Umair Bin Adiy. Al - Waqidiy Berkata, : " Abdullah Bin Harits Melantunkan Syair : Bani Wail, Bani Waqif, Dan Bani Khuthmah, Derajatnya Lebih Rendah Daripada Bani Khazraj, Kapan Saudari Kalian Mengaku Bersuami Dengannya, Sementara Kematian Mendatanginya, Maka Ia Guncangkan Pemuda Yang Mulia Nasabnya, Yang Luhur Tempat Keluar Dan Masuknya, Lalu Ia Melumuri Wanita Itu Dengan Darah Yang Merah Kehitaman, Sebelum Subuh Sedangkan Dia Belum Keluar, Maka Allahpun Memasukkan Pemuda Itu Ke Dalam Syurga Yang Dingin, Dengan Riang Karena Masuk Dalam Kenikmatan.


Abu Ahmad Al - Askariy Meriwayatkan Kisah Yang Lebih Ringkas Dari Ini, Setelah Itu Ia Berkata, : “ Wanita Ini Biasa Mengejek Dan Menyakiti Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. ” Kisah Ini Juga Disebutkan Secara Ringkas Dalam Ath - Thabaqat Oleh Muhammad Bin Sa‘d.


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullaah Berkata, : " Setelah Menyebutkan Kisah Ini, “ Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Secara Khusus Menyebut Kata Al - ‘Anaz ( Kambing Betina ) Karena ‘Anaz Biasanya Beradu Dengan ‘Anaz Lain Kemudian Meninggalkannya, Tidak Seperti Tandukan Kambing Kibasy Atau Yang Lain. ”Abu Ubaidah Rahimahullaah Berkata Di Dalam Al - Amwal, “ Demikian Juga Kisah ‘Ashma, Wanita Yahudi, Ia Dibunuh Karena Mencaci Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Sedangkan Wanita Ini, Bukan Wanita Yang Dibunuh Oleh Suaminya Yang Buta, Bukan Juga Wanita Yahudi. Sebab Wanita Ini Berasal Dari Bani Umayah Bin Zaid, Salah Satu Rumpun Kabilah Anshor. Ia Punya Suami Dari Bani Khuthmah. Karenanya, Wallahu A‘lam, Dalam Hadits Ibnu Abbas Ia Dinisbatkan Kepada Bani Khutmah, Sementara Pembunuhnya Bukan Suaminya. Wanita Ini Punya Beberapa Orang Anak, Ada Yang Sudah Dewasa Dan Ada Yang Masih Kecil. Memang, Bahwa Pembunuhnya Dari Kabilah Suaminya, Sebagaimana Tercantum Dalam Hadits.


” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullaah Berkata, : “ Sengaja Kami Kemukakan Kisah Ini Bersumber Dari Riwayat Ahlul Maghoziy Beserta Dengan Riwayat Al - Waqidiy Yang Di Dalamnya Ada Kelemahan, Hal Itu Karena Kisah Ini Cukup Masyhur Di Kalangan Mereka. Di Saat Yang Sama, Tidak Ada Yang Memperselisihkan Bahwa Al - Waqidiy Adalah Orang Yang Paling Tahu Tentang Rincian - Rincian Kisah Berbagai Peperangan, Paling Tahu Tentang Kondisinya.


Imam Ahmad, Imam Syafi‘iy Dan Lain - Lain Juga Mengambil Ilmu Tersebut Dari Buku - Bukunya. Memang Benar, Kisah Ini Dicampuri Kerancuan - Kerancuan Riwayat, Sampai Tampak Terlihat Ia Mendengar Seluruh Kisahnya Dari Guru - Gurunya, Padahal Ia Menerima Dari Masing - Masing Syaikh Sepenggal - Sepenggal, Lalu Ia Gabungkan Tanpa Ia Pilah - Pilah Dari Masing - Masing Syaikh. Ia Mengambilnya Dari Hadits Mursal Dan Maqthu‘, Yang Bisa Jadi Seorang Perawi Menduga - Duga Beberapa Perkara Dengan Mengacu Kepada Bukti - Bukti Penguat Yang Menyertai ( Qorinah ) Yang Ia Ambil Dari Beberapa Jalur Periwayatan. Kemudian Ia Banyak Melakukan Itu Hingga Menyebabkan Ia Dituduh Melakukan Pemalsuan Riwayat Dan Tidak Teliti Sehingga Tidak Bisa Berhujjah Dengan Apa Yang Ia Riwayatkan Sendirian. Adapun Berdalil Dengan Haditsnya, Atau Menjadikan Haditsnya Sebagai Penguat, Maka Itu Merupakan Perkara Yang Tidak Mungkin Ditentang, Apalagi Kisah Itu Sempurna ; Yang Di Dalamnya Ia Menyebutkan Namanya Pembunuh, Nama Yang Dibunuh, Gambaran Kondisi Saat Itu. Sebab Orang Yang Seperti Ini, Lebih Baik Daripada Mereka Yang Mengangkat Kedustaan Atau Pemalsuan Hadits Dalam Urusan Seperti Ini. Di Saat Yang Sama, Kita Tidak Menetapkan Disyariatkannya Membunuh Orang Yang Mencaci Rasul Semata - Mata Dengan Hadits Ini Saja, Tetapi Kita Menyebutkannya Hanya Sebatas Penguat Dan Penegasan. Dan Ini Bisa Dilakukan Dengan Hadits Yang Diriwayatkan Oleh Orang Yang Kapasitasnya Lebih Rendah Daripada Al - Waqidiy.


DENGAN WAFATNYA RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM PEMBERIAN MAAF TIDAK MUNGKIN DILAKUKAN, MAKA TINGGALLAH MEMBUNUH ORANG SEPERTI ITU MENJADI HAK MURNI BAGI ALLAH, RASUL-NYA DAN ORANG - ORANG BERIMAN DAN PELAKUNYA TIDAK PERLU DIMAAFKAN. MAKA MEMBUNUHNYA MENJADI WAJIB UNTUK DILAKSANAKAN.


”Syaikhul Islam Rahimahullaah Juga Berkata, : “ Dulu Para Shahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Apabila Melihat Orang Yang Menyakiti Beliau, Mereka Ingin Membunuhnya, Karena Mereka Tahu Bahwa Orang Seperti Ini Layak Dibunuh. Kemudian Beliau Memaafkannya Dan Menerangkan Kepada Mereka Bahwa Memaafkannya Lebih Mendatangkan Mashlahat, Meski Pun Beliau Menyatakan Bolehnya Membunuh Orang Seperti Itu. Seandainya Ada Orang Yang Membunuhnya Sebelum Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Memaafkan, Beliau Tidak Memarahinya, Karena Beliau Tahu Dia Melakukan Itu Untuk Membela Allah Dan Rasul-Nya. Bahkan, Beliau Akan Memujinya Sebagaimana Ketika Umar Radhiyallaahu 'Anhu Membunuh Seseorang Yang Tidak Ridha Dengan Hukum Beliau, Dan Sebagaimana Ketika Ada Seorang Lelaki Yang Membunuh Puteri Marwan, Juga Wanita Yahudi. Jika Dengan Wafatnya Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Pemberian Maaf Tidak Mungkin Dilakukan, Maka Tinggallah Membunuh Orang Seperti Itu Menjadi Hak Murni Bagi Allah, Rasul-Nya Dan Orang - Orang Beriman, Dan Pelakunya Tidak Perlu Dimaafkan. Maka Membunuhnya Menjadi Wajib Untuk Dilaksanakan.”


DALIL KEDELAPAN :


ORANG KAFIR MU'AHAD JIKA MENAMPAKAN PENGHINAAN MAKA IKATAN PERJANJIAN BATAL DAN BOLEH DIBUNH SECARA DIAM - DIAM ( DENGAN CARA IGHTIYAL ).





Kisah Abu ‘Ifk, Seorang YahudiAhlu `l-Maghaziy Wa `S-Siyar Menyebutkan Kisah Ini. Al - Waqidiy Berkata, Telah Bercerita Kepadaku Syu‘bah Bin Muhammad Dari ‘Imarah Bin Ghaziyyah Dan Telah Menceritakannya Kepada Kami Abu Mush‘ab Ismail Bin Mush‘ab Bin Isma‘il Bin Zaid Bin Tsabit Dari Guru - Gurunya, Keduanya Berkata, : “ Ada Orang Tua Dari Bani Amru Bin Auf Yang Biasa Dipanggil Abu ‘Ifk. Ia Adalah Orang Yang Sudah Sangat Tua, Umurnya Sudah 120 Tahun Ketika Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Datang Di Madinah. Ia Suka Memprovokasi Untuk Memusuhi Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Dan Tidak Mau Masuk Islam. Maka Tatkala Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Keluar Menuju Badar, Allah Memenangkan Beliau Lalu Orang Ini Dengki Dan Iri Kepada Beliau. Kemudian Ia Melantunkan Syair Yang Isinya Mencela Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Dan Menghina Orang Yang Mengikuti Beliau, Yang Paling Parah Ia Katakan Di Sana Adalah :Maka Orang Itu Merampas Urusan MerekaYang Halal Dan Haram Tak Dibedakan LagiSalim Bin Umair Berkata, : “ Aku Bernadzar Akan Membunuh Abu ‘Ifk Atau Aku Mati Karenanya. ”Kemudian Ia Menunggu Beberapa Waktu, Ia Mencari Saat Dia Lengah. Hingga Ketika Tiba Di Suatu Malam Di Musim Panas, Abu ‘Ifk Tidur Di Sebuah Teras Di Pemukiman Bani Amru Bin Auf. Maka Salim Bin Umair Menghunjamkan Pedangnya Tepat Di Dadanya Sampai - Sampai Tembus Ke Tempat Tidurnya, Musuh Allah Itu Berteriak, Maka Orang - Orang Yang Mendukungnya Mendatanginya Dan Memasukkannya Ke Dalam Rumahnya Sebelum Akhirnya Menguburkannya. Mereka Mengatakan, : “ Siapakah Yang Membunuhnya ? Demi Allah, Kalau Kita Tahu Pembunuhnya Pasti Akan Kita Bunuh Dia. ”


Seperti Inilah Yang Dikisahkan Oleh Muhammad Bin Sa‘ad, Ia Mengatakan Bahwa Abu ‘Ifk Adalah Seorang Yahudi, Kami Telah Sebutkan Sebelumnya Bahwa Kaum Yahudi Di Madinah Seluruhnya Terikat Perjanjian Damai. Kemudian Ketika Dia Mencela Dan Menampakkan Hinaan Kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Ia Dibunuh.Al - Waqidiy Berkata Dari Ibnu Raqsy, : “ Abu ‘Ifk Dibunuh Pada Bulan Syawal, 20 Bulan Setelah Hijrah. ”


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullaah Berkata Setelah Menyebutkan Kisah Ini, : “ Ini Terjadi Jauh Sebelum Pembunuhan Ka‘ab Bin Al - Asyraf. Dan Ini Merupakan Dalil Yang Jelas Menunjukkan Bahwa Orang Kafir Mu‘ahad Jika Menampakkan Penghinaan Maka Ikatan Perjanjiannya Batal Dan Boleh Dibunuh Secara Diam - Diam ( Dengan Cara Ightiyal ). Hanya Saja Kisah Ini Ada Pada Riwayat Ahlu `l- Maghaziy, Dan Layak Untuk Pendukung Dan Penguat Tanpa Diragukan.”


DALIL KESEMBILAN :


MELAKSANAKAN PERINTAH SURAT NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM YANG ISINYA MEMERINTAHKAN BANGKIT MEMBELA AGAMA, BAIK DENGAN CARA IGHTIYALAT ATAU DENGAN KONFRONTASI LANGSUNG BAGI YANG MEMILIKI KEBERANIAN DAN AGAMA ( IMAN ).


Kisah Pembunuhan Al - Aswad Al - ‘Unsiy.Ibnu Katsir Rahimahullaah Bercerita Tentang Al - Aswad Al - ‘Unsiy : “ Kerajaan Dan Pengaruhnya Semakin Menguat, Kemudian Banyak Sekali Orang - Orang Yaman Yang Murtad Dari Islam. Kaum muslimin Di Sana Menghadapinya Dengan Cara Taqiyah. Urusan Kepemimpinan Dia Serahkan Kepada Amru Bin Ma‘dikarb, Urusan Ketentaraan Ia Serahkan Kepada Qois Bin Abdu Yaghuts, Sedangkan Urusan Anak - Anak Ia Serahkan Kepada Fairuz Ad - Dailamiy Dan Dadzawaih. Ia Menikah Dengan Mantan Isteri Syahr Bin Badzam, Wanita Ini Masih Sepupu Dari Fairuz Ad - Dailamiy, Namanya Adalah Zaad. Ia Adalah Wanita Yang Cantik Dan Rupawan, Meski Pun Begitu Ia Beriman Kepada Allah Dan Rasul-Nya ( Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ) Dan Satu Dari Wanita - Wanita Sholehah. Saif Bin Umar At - Tamimiy Berkata, : “ Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Mendengar Berita Tentang Aswad Al - ‘Unsiy ( Yang Mengaku Nabi, Pent. ), Beliau Mengirimkan Surat Melalui Seseorang Bernama Wabar Bin Yahnas Ad - Dailamiy Yang Isinya Memerintahkan Kaum Muslimin Di Sana Untuk Memerangi Aswad Al - Unsiy.


Di Dalam Sejarah Bangsa - Bangsa Dan Para Raja ( Tarikhu `l- Umam Wa `l- Muluk ) Disebutkan, : Ath - Thabariy Meriwayatkan Dengan Isnadnya Dari Dhahak Bin Fairuz Ia Berkata, : “ Datang Kepada Kami Wabar Bin Yuhannas Membawa Surat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Yang Di Dalamnya Beliau Memerintahkan Kami Untuk Bangkit Membela Agama Kita Dan Mulai Melakukan Peperangan Serta Bekerja Untuk Membunuh Aswad, Baik Dengan Cara Ightiyalat Atau Dengan Konfrontasi Langsung, Beliau Juga Berpesan Agar Menyampaikan Isi Surat Itu Kepada Orang Yang Kami Pandang Memiliki Keberanian Dan Agama ( Iman ). Maka Kami Pun Melaksanakannya. ”


Demikian, Ibnu Katsir Rahimahullaah.Melengkapi Kisah Di Atas, Ibnu Katsir Berkata, : “ Shahabat Muadz Bin Jabal Berhasil Melaksanakan Perintah Surat Ini Dengan Sempurna. Beliau Menikahi Seorang Wanita Dari Bani Sukun, Hingga Akhirnya Mereka Mau Mendukungnya Untuk Melawan Aswad, Ini Karena Kesabaran Muadz, Dan Mereka Turut Bersama - Sama Beliau Melaksanakan Isi Surat Itu, Mereka Menyampaikan Isi Surat Itu Kepada Para Pejabat Yang Diangkat Oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Dan Siapa Pun Yang Bisa Mereka Jumpai. Akhirnya Mereka Sepakat Untuk Menyerahkan Urusan Ini Kepada Qois Bin Abdi Yaghuts Yang Oleh Aswad Ditunjuk Sebagai Komandan Tentara. Qois Sendiri Sebenarnya Sangat Membenci Aswad, Namun Ia Menyembunyikan Kebencian Itu Dan Ia Berencana Untuk Membunuhnya. Demikian Halnya Dengan Fairuz Ad - Dailamiy, Posisinya Lemah Di Sisi Aswad. Demikian Juga Dengan Dadzawaih. Tatkala Wabar Bin Yahannas Memberitahu Qois Bin Abdi Yaghuts – Atau Qois Bin Maksyuh — Maka Ia Merasa Ada Sesuatu Yang Turun Dari Langit Kepadanya Dan Ia Pun Setuju Dengan Rencana Mereka Untuk Menghabisi Aswad. Akhirnya Kaum Muslimin Menyepakatinya Dan Saling Berjanji Untuk Itu.Ketika Aswad Mencurigai Hal Itu Di Hatinya, Syetannya Muncul Memberitahukan Sebagian Dari Rencana Kaum Muslimin. Maka Aswad Pun Memanggil Qois Bin Masykuh, Ia Berkata, : “ Wahai Qois, Apa Yang Dikatakan Orang Ini ( Syetan Yang Membisikinya, Pent. ), Tahukah Kamu ? Ia Berkata, : " Kamu Sudah Memuliakan Qois Hingga Ia Bisa Masuk Kepadamu Pada Setiap Tempat Masuk, Lalu Di Saat Dalam Kedudukan Ia Sebanding Denganmu Ia Membelot Memusuhimu Dan Menggoyang Kekuasaanmu Dan Menyimpan Rencana Untuk Berkhianat. " Sungguh Ia Mengatakan, : ‘Hai Aswad, Hai Aswad, Hai Jelek, Hai Jelek.’ Maka Tangkaplah Qois, Kalau Tidak Dia Akan Menggulingkanmu Dan Memutus Hatimu. ”


Mendengar Itu Qois Berkata, – Sambil Bersumpah Dusta —, : “ Demi Pemilik Kerudung, Sungguh Engkau Terlalu Mulia Bagiku Sehingga Aku Berani Merencanakan Hal Itu Kepadamu. ” Mendengar Itu, Aswad Berkata, : “ Aku Tidak Akan Menyangkamu Berbohong Kepada Malaikat, Benarlah Malaikat Itu Dan Ia Tahu Sekarang Kamu Sudah Bertaubat Dari Apa Yang Sudah Dia Lihat Darimu. ” Maka Qois Keluar Dari Tempat Aswad Dan Mendatangi Teman - Temannya, Fairuz Dan Dadzuwaih, Dan Memberitahukan Apa Yang Dikatakan Aswad Kepadanya Dan Bagaimana Ia Menjawab. Maka Mereka Berkata, : “ Sesungguhnya Kita Semua Dalam Kondisi Harus Hati - Hati, Adakah Ide ? ” Ketika Mereka Tengah Asyik Berunding, Tiba - Tiba Datang Utusan Aswad Dan Menghadapkan Mereka Kepadanya, Ia Berkata, : “ Bukankah Aku Telah Memuliakan Kalian Atas Kaum Kalian. ” Mereka Menjawab, : “ Benar, Tuan. ”“ Lantas Mengapa Aku Mendengar Sesuatu Yang Kurang Beres Dari Kalian ? ”“ Maafkanlah Kami Kali Ini. ” Pinta Mereka.“ Jangan Sampai Aku Mendengar Lagi Sesuatu Dari Kalian, Sehingga Aku Harus Memaafkan Kalian Lagi, ”



Kata Aswad.Maka Kami Berhasil Lolos Dan Keluar Dari Tempat Aswad, Hampir Saja Kami Celaka, Karena Aswad Mulai Ragu Terhadap Kami Dan Kami Berada Dalam Bahaya. Ketika Kami Masih Dalam Kondisi Mengkhawatirkan Seperti Itu, Datanglah Surat - Surat Dari Amir Bin Syah, Pemimpin Hamdan, Dari Dzi Dzulaim Dan Dzi Kila‘ Serta Pemimpin - Pemimpin Di Yaman Lainnya, Yang Isinya Mereka Menyatakan Kepatuhan Dan Kesediaan Membantu Kepada Kami Untuk Melawan Aswad. Hal Itu Terjadi Setelah Mereka Mendengar Surat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Yang Memerintahkan Untuk Memerangi Aswad Al - Unsiy. Maka Kami Balas Surat Itu Yang Mana Kami Berpesan Agar Mereka Tidak Membicarakannya Kepada Siapa Pun Sampai Kami Mematangkan Rencana.


Qois Bercerita, : “ Tak Lama Setelah Itu, Aku Masuk Menemui Istri Aswad, Zaad, Kukatakan, : “ Wahai Sepupuku, Engkau Tahu Sendiri Musibah Yang Ditimbulkan Lelaki Ini Terhadap Kaummu. Ia Telah Membunuh Suamimu Dan Menimpakan Pembunuhan Kepada Kaummu Serta Melecehkan Kaum Wanita. Maka Tidakkah Engkau Mempunyai Rencana Untuk Menghabisinya ? ” Zaad Berkata, : “ Lantas, Apa Yang Kau Maksud ? Mengusirnya Atau Membunuhnya ? ” “Membunuhnya, ” Jawab Qois. Zaad Berkata, : “ Benar, Demi Allah, Tidaklah Allah Menciptakan Orang Yang Lebih Kubenci Daripada Dia, Sungguh Ia Tidak Melaksanakan Hak Allah Dan Tidak Meninggalkan Perbuatan Haram. Nanti, Jika Kalian Benar - Benar Berkeinginan Melakukannya, Beritahu Aku, Aku Akan Memberi Informasi Tentang Dia Kepada Kalian. ” Setelah Itu Aku Keluar – Kata Qois — Dan Ternyata Fairuz Dan Dadzuwaih Sudah Menungguku, — Mereka Sudah Ingin Sekali Menjalankan Misinya —. Tapi, Tak Berselang Lama Mereka Berkumpul, Tiba - Tiba Aswad Kembali Memanggil Qois. Setelah Itu Aswad Mengadakan Pertemuan Dengan Sepuluh Orang Dari Kaumnya, Ia Berkata, : “ Bukankah Telah Kuberitahukan Kebenaran Kepadamu Tapi Kamu Menyangkalnya. Sungguh Telah Dikatakan, Hai Jelek ….. Hai Jelek ….. Jika Kamu Tidak Memenggal Qois, Ia Akan Memenggalmu Dengan Tangannya. ” Sampai - Sampai Qois Merasa Ia Pasti Akan Dibunuh. Maka Ia Berkata, : “ Sungguh, Tidak Layak Aku Membunuh Jika Engkau Adalah Utusan Allah, Sungguh Engkau Membunuhku Itu Lebih Kusukai Daripada Setiap Hari Aku Mengalami Kematian Yang Biasa. ” Akhirnya Hati Aswad Luluh Dan Memerintahkan Qois Untuk Pulang. Qois Segera Menemui Teman - Temannya, Ia Berkata, : “ Kerjakan Misi Kalian Sekarang. ” Lagi - Lagi Ketika Mereka Tengah Asyik Berunding Di Depan Pintu Rumah Aswad, Tiba - Tiba Aswad Keluar Memergoki Mereka, Kebetulan Saat Itu Sudah Dikumpulkan Seratus Hewan, Terdiri Dari Sapi Dan Unta. Maka Aswad Berdiri Sambil Membuat Sebuah Garis, Sementara Di Belakangnya Diambil Seekor Hewan Dari Hewan - Hewan Tadi.


Maka Aswad Menyembelihnya Tanpa Membiarkan Kepalanya Tergantung Dan Tertahan. Ia Sama Sekali Tidak Melewati Garis Yang Ia Buat Tadi. Hewan Itu Pun Menggelepar - Gelepar Sebelum Akhirnya Nyawanya Melayang. Qois Berkata, : “ Sungguh Aku Belum Pernah Melihat Kejadian Yang Lebih Menjijikkan Dan Mengerikan Daripada Itu. ” Setelah Itu Aswad Berkata, : “ Benarkah Berita Yang Sampai Kepadaku Tentang Dirimu, Wahai Fairuz ? Sungguh Aku Benar - Benar Ingin Menyembelihmu Dan Kususulkan Engkau Dengan Hewan Tadi Dan Kuperangi Kamu.” Fairuz Menjawab, : “ Anda Telah Memilih Kami Sebagai Mertuamu Dan Anda Telah Melebihkan Kami Dengan Menyerahkan Urusan Anak - Anak Kepada Kami. Kalau Bukan Karena Anda Nabi, Kami Tidak Akan Menjual Bagian Kami Kepada Anda Sedikit Pun. Bagaimana Tidak, Sementara Telah Terkumpul Pada Diri Anda Urusan Dunia Akhirat. Maka Janganlah Anda Percayai Berita Miring Tentang Kami Yang Sampai Kepada Anda, Sesungguhnya Kami Selalu Dalam Posisi Yang Anda Sukai. ” Akhirnya Aswad Ridha Kepadanya Dan Memerintahkannya Untuk Membagi - Bagikan Daging Hewan - Hewan Tadi, Maka Fairuz Membagi - Bagikannya Kepada Penduduk Shon‘a’. Setelah Itu, Fairuz Buru - Buru Kembali Menghadap Aswad. Tetapi Ternyata Ada Lagi Orang Yang Memprovokasi Aswad Tentang Fairuz Dan Berusaha Membunuhnya.


Fairuz Mendengar Hal Itu, Tiba - Tiba Aswad Berkata, : “ Aku Akan Membunuhnya Besok Dan Teman - Temannya, Maka Bawalah Ia Besok Ke Mari. ” Begitu Menoleh, Ternyata Fairuz Sudah Ada Di Situ, Ia Berkata, : “ Ada Apa ? ” Maka Fairuz Melaporkan Pembagian Daging Tadi. Setelah Itu, Aswad Masuk Rumahnya Sementara Fairuz Kembali Menemui Teman - Temannya Dan Memberitahu Mereka Tentang Apa Yang Baru Saja Dia Dengar Dan Dikatakan Perihal Dirinya. Akhirnya Mereka Semua Sepakat Untuk Kembali Menagih Janji Isteri Fairuz Yang Akan Membantu Mereka. Maka Salah Satu Dari Mereka, Yaitu Fairuz, Masuk Menemuinya, Wanita Itu Berkata, : “ Di Perkampungan Ini, Tidak Ada Satu Rumah Pun Melainkan Dijaga Sekelilingnya Oleh Para Penjaga, Selain Rumah Aswad ; Sesungguhnya Rumah Itu Bagian Belakangnya Menghadap Ke Jalan Ini Dan Itu. Maka Bila Kalian Telah Memasuki Waktu Sore, Lubangilah Rumah Itu Dari Dalam Di Saat Tidak Dijaga Oleh Para Penjaga. Dan Membunuhnya Itu Bukanlah Perkara Yang Sulit. Nanti Saya Akan Letakkan Di Dalam Rumah Itu Sebuah Lampu Dan Senjata. ” Ketika Fairuz Keluar Dari Rumahnya, Aswad Memergokinya. Ia Berkata, : “ Mengapa Kamu Masuk Ke Tempat Keluargaku ? Aswad Menggerak - Gerakkan Kepalanya, Dan Dia Terkenal Sebagai Lelaki Yang Bengis. Tiba - Tiba Isterinya Berteriak Hingga Membuat Aswad Kaget Dan Lengah Dan Tidak Tahu Kalau Itu Fairuz. Kalau Bukan Karena Itu, Tentu Ia Sudah Membunuhnya. Isterinya Berkata, : “ Sepupuku Datang Berkunjung. ” Aswad Berkata, : “ Diam Kamu, Aku Tidak Peduli Denganmu, Aku Telah Memberikannya Kepadamu. ”


Maka Fairuz Segera Keluar Menemui Teman - Temannya Dan Mengatakan, : “ Selamat ..… Selamat .… ” Ia Memberitahukan Kejadian Yang Baru Saja Ia Alami. Akhirnya Mereka Kebingungan, Apa Yang Harus Dilakukan. Maka Isteri Aswad Mengirim Utusan Untuk Menyampaikan Pesan, : “ Jangan Mengurungkan Tekad Kalian ..… ” Kemudian Masuklah Fairuz Ad - Dailamiy Menemuinya Untuk Memastikan Informasi Tentangnya. Lalu Mereka Masuk Ke Dalam Rumah Itu Dan Melubangi Bagian Dalamnya Dan Menggantinya Dengan Tanah Agar Mereka Mudah Membongkarnya Dari Luar. Setelah Itu, Fairuz Masuk Secara Terang - Terangan Menemui Istri Aswad Layaknya Orang Yang Berkunjung, Tak Lama Kemudian Datanglah Aswad Ia Berkata, : “ Apa - Apaan Ini ? ” “ Dia Adalah Saudara Sesusuanku, Dia Juga Sepupuku. ” Jawab Isterinya. Maka Aswad Membentaknya Dan Mengusirnya, Akhirnya Fairuz Kembali Kepada Teman - Temannya. Ketika Malam Tiba, Mereka Membongkar Lubang Rumah Yang Sudah Mereka Buat Tadi, Lalu Mereka Memasukinya Dan Di Sana Sudah Ada Lampu Di Bawah Sebuah Mangkuk Besar. Maka Fairuz Ad - Dailamiy Menghampirinya Sementara Aswad Tidur Di Atas Kasur Dari Sutera, Kepalanya Tertutup Oleh Badannya Dalam Keadaan Mabuk Dan Mendengkur. Sementara Isterinya Duduk Di Sampingnya. Ketika Fairuz Berdiri Di Depan Pintu, Syetan Membangunkan Aswad Dan Mendudukkannya Serta Membuatnya Berbicara Melalui Lidahnya Dalam Kondisi Ia Masih Mendengkur, Ia Berkata, : “ Apa Urusanku Denganmu Wahai Fairuz ? ” Melihat Itu, Fairuz Khawatir Dirinya Dan Wanita Itu Akan Binasa, Maka Segera Ia Menyerang Aswad Dan Bergulat Dengannya Sementara Aswad Sulit Dijinakkan Seperti Unta. Kemudian Fairus Berhasil Memegang Kepalanya Hingga Akhirnya Ia Hantam Lehernya Dan Ia Injakkan Lututnya Di Punggungnya Sampai Akhirnya Ia Berhasil Membunuhnya. Begitu Selesai, Ia Berdiri Untuk Keluar Menemui Teman - Temannya Dan Memberitahu Mereka. Tapi Istri Aswad Menarik Baju Belakangnya Dan Berkata, : “ Ke Mana Kamu Mau Meninggalkan Saudari Mahrammu ? ”



Ia Mengira Aswad Belum Terbunuh. Fairuz Berkata, : “ Aku Mau Keluar Memberi Tahu Teman - Temanku Bahwa Aswad Sudah Terbunuh.”Tak Lama Kemudian, Mereka Masuk Ke Tempat Aswad Untuk Memenggal Kepalanya. Tapi Tiba - Tiba Syetannya Aswad Menggerak - Gerakkannya Hingga Ia Bergoncang Sampai Mereka Tidak Bisa Mengendalikannya, Hingga Akhirnya Dua Orang Berhasil Menduduki Punggungnya Dan Isterinya Menjambak Rambutnya.


Kemudian Aswad Meraung - Raung Dengan Lidahnya Maka Fairus Memotong Lidahnya Sementara Yang Lain Memenggal Lehernya Hingga Aswad Melenguh Seperti Melenguhnya Sapi Dengan Suara Paling Keras. Mendengar Itu, Para Penjaga Memasuki Ruangan Dan Berkata, : “ Suara Apa Itu ? ” Isterinya Menyahut, : “ Nabi Sedang Menerima Wahyu. ” Akhirnya Mereka Kembali. Sementara Qois, Dadzuwaih Dan Fairuz Berunding Bagaimana Mengumumkan Hal Itu Kepada Para Pengikut Aswad. Akhirnya Mereka Sepakat Jika Tiba Waktu Pagi, Mereka Akan Mengumandangkan Syiar Yang Biasa Dipakai Untuk Mengumpulkan Mereka Dan Kaum Muslimin. Dan Benar, Keesokan Harinya Salah Satu Dari Ketiganya – Yaitu Qois — Berdiri Di Atas Pagar Benteng Dan Meneriakan Syiar Yang Biasa Dipakai Untuk Mengumpulkan Mereka. Dan Berkumpullah Kaum Muslimin Dan Orang - Orang Kafir ( Pengikut Asli Aswad, Pent. ) Di Sekeliling Benteng. Maka Qois – Ada Juga Yang Berpendapat Wabar Bin Yahnas — Mengumandangkan Suara Adzan Dan Mengucapkan, : “ Aku Bersaksi Muhammad Adalah Utusan Allah Dan Orang Terlantar Ini ( Aswad, Pent ) Adalah Pendusta. ” Setelah Itu Ia Lempar Kepalanya Ke Tengah - Tengah Mereka, Maka Para Pengikutnya Pun Menyerah, Orang - Orang Menangkapi Mereka Dan Memburu Mereka Di Setiap Jalan Untuk Menjadikan Mereka Sebagai Tawanan.


Dan Menanglah Islam Serta Para Pemeluknya, Para Wakil Rasulullaah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Kembali Kepada Jabatan Mereka Semula. Kemudian, Ketiga Orang Itu Berselisih Tentang Siapa Yang Akan Menerima Tampuk Kepemimpinan, Tapi Akhirnya Mereka Sepakat Untuk Menyerahkannya Kepada Muadz Bin Jabal, Ia Shalat Mengimami Orang - Orang. Kemudian Mereka Menulis Berita Kepada Rasulullaah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Yang Di Malam Hari Sebelumnya Allah Telah Memberitahu Beliau, Sebagaimana Dikatakan Oleh Saif Bin Umar At - Tamimiy Dari Abu `l-Qosim Asy - Syinawiy Dari Al -‘Allal Bin Ziyad Dari Ibnu ‘Umar, : " Bahwasanya Datang Berita Kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Dari Langit Di Malam Ketika Aswad Al - Unsiy Terbunuh, Agar Beliau Sampaikan Berita Gembira Itu Kepada Kami. Beliau Bersabda, : “ Al -‘Unsiy Telah Terbunuh Tadi Malam, Dia Dibunuh Seorang Lelaki Penuh Berkah Dari Keluarga Yang Diberkahi, ” Ditanyakan, : “ Siapa Dia Wahai Rasulullaah ? ” Beliau Bersabda, : “ Fairuz, Fairuz. ”


Ibnu Katsir Rahimahullaah Berkata, : “ Dikatakan Bahwa Masa Ia Berkuasa Sejak Ia Menang Hingga Terbunuh Adalah Tiga Bulan, Ada Juga Yang Mengatakan Empat Bulan. Wallahu A‘lam. ” Selesai Perkataan Ibnu Katsir.


Bukhari Membuat Bab Khusus Dalam Kitab Al - Maghaziy Di Dalam Shahih-nya Tentang Kisah Aswad, Dia Berkata, : “ Ubaidullah Bin Abdillah Berkata, : " Aku Bertanya Kepada Abdullah Bin Abbas Tentang Mimpi Rasulullaah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Yang Ia Ceritakan, Maka Ibnu Abbas Radhiyallaahu 'Anhu Berkata, : “ Diceritakan Kepadaku Bahwa Rasulullaah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Bersabda, : “ Ketika Aku Sedang Tidur, Diperlihatkan Kepadaku Seolah Diletakkan Di Tanganku Dua Perhiasan Dari Emas Maka Aku Memutuskannya Dan Membencinya. Setelah Itu Aku Diperintahkan Untuk Meniupnya Hingga Keduanya Terbang. Maka Aku Menakwilkan Bahwa Kedua Perhiasan Itu Adalah Dua Pendusta Yang Akan Muncul. ” Maka Ubaidullah Berkata, : “ Salah Satunya Adalah Al - Unsiy Yang Dibunuh Oleh Fairuz Di Yaman, Satunya Lagi Adalah Musailamah Al - Kadzzab. ”


Ibnu Taimiyah Rahimahullaah Berkata, : “ Kemudian Fairuz Ad - Dailamiy Melakukan Perlawanan Kepada Al - Aswad Al - ‘Unsiy Hingga Ia Berhasil Membunuhnya, Dan Datanglah Berita Terbunuhnya Aswad Kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Ketika Beliau Sedang Sakit Menjelang Wafat. Kemudian Beliau Keluar Dan Memberitahu Para Shahabatnya Tentang Itu Dan Bersabda, : “ Telah Terbunuh Aswad Al - Unsiy Tadi Malam, Ia Dibunuh Oleh Seorang Lelaki Shaleh Dari Kaum Yang Shaleh. ” Dan Kisah Tentang Ini Cukup Masyhur. ”


Ath - Thabariy Rahimahullaah Menyebutkan, : Bahwa Fairuz Dan Teman - Temannya Melakukan Muslihat Terhadap Aswad Dan Menampakkan Seolah Mereka Mengikutinya Hingga Mereka Berhasil Membunuhnya Secara Diam - Diam. Dan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Telah Memuji Fairuz Dan Dikatakan Bahwa Kabar Tentang Mereka Telah Sampai Kepada Beliau Melalui Wahyu Di Malam Ia Meninggal.”


DALIL KESEPULUH :


MEMBALAS DENGAN PERLAKUAN YANG SAMA ( AL - MU'AQOBAH BI 'I-MITSL )


Allah Ta‘ala Berfirman, :فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ“ ..… Oleh Sebab Itu, Barangsiapa Yang Menyerang Kamu, Maka Seranglah Ia, Seimbang Dengan Serangannya Terhadapmu ..… ” ( QS. Al - Baqarah : 194 ).


وَالَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ الْبَغْىُ هُمْ يَنتَصِرُونَ وَجَزَآؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةً مِّثْلَهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الظَّالِمِينَ وَلَمِن انتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُوْلَئِكَ مَاعَلَيْهِم مِّن سَبِيلٍ إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي اْلأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ“ Dan ( Bagi ) Orang - Orang Yang Apabila Mereka Diperlakukan Dengan Zalim Mereka Membela Diri. Dan Balasan Suatu Kejahatan Adalah Kejahatan Yang Serupa, Maka Barang Siapa Memaafkan Dan Berbuat Baik, Pahalanya Atas ( Tanggungan ) Allah, Sesungguhnya Dia Tidak Menyukai Orang - Orang Yang Zalim. Dan Sesungguhnya Orang - Orang Yang Membela Diri Sesudah Teraniaya, Tidak Ada Satu Dosa Pun Terhadap Mereka. Sesungguhnya Dosa Itu Atas Orang - Orang Yang Berbuat Zalim Kepada Manusia Dan Melampaui Batas Di Muka Bumi Tanpa Hak, Mereka Itu Mendapat Azab Yang Pedih. ” ( QS. Asy - Syura : 39 – 42 ).


وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَاعُوقِبْتُمْ بِهِ“ ..… Dan Jika Kamu Memberikan Balasan, Maka Balaslah Dengan Balasan Yang Sama Dengan Siksaan Yang Ditimpakan Kepadamu …” ( QS. An - Nahl : 126 ).


Ayat - Ayat Ini Berlaku Umum Untuk Semua, Kasus Yang Menjadi Penyebab Turunnya Tidak Bisa Mengkhususkannya. Sebab, Dalam Sebuah Kaidah Syar‘iy Dikatakan, : “ Al - ‘Ibratu Bi ‘Umuumi `l- Lafdzi, Laa Bi Khushuusi `S - Sabaab. ” ( Yang Dijadikan Patokan Adalah Keumuman Lafadz, Bukan Kekhususan Sebab ). Sehingga Dengan Demikian, Kaum Muslimin Boleh Melakukan Hal Serupa Terhadap Apa Saja Yang Dilakukan Musuh Terhadap Mereka. Artinya, Jika Mereka Meng - Ightiyal Para Mujahid Kita Maka Kita Pun Meng - Ightiyal Mereka. Jika Mereka Mencincang Kaum Muslimin, Kita Boleh Mencincang Mereka. Jika Mereka Sengaja Menjadikan Wanita Dan Anak Kecil Sebagai Target Serangan Hingga Terbunuh, Maka Kita Kaum Muslimin Dipersilahkan Membalas Dengan Tindakan Yang Sama Dengan Menjadikan Wanita Dan Anak - Anak Musuh Sebagai Target Untuk Dibunuh, Berdasarkan Keumuman Ayat - Ayat Di Atas.




Ibnu `l-Qoyyim Rahimahullaah Berkata, : “ Firman Allah, : “ … Maka Seranglah Ia, Seimbang Dengan Serangannya Terhadapmu … ”, Kemudian Firman-Nya, : “ ….. Dan Balasan Sebuah Kejahatan Adalah Kejahatan Yang Serupa ….. ” Kemudian Firman-Nya, : “ Dan Jika Kamu Memberikan Balasan, Maka Balaslah Dengan Balasan Yang Sama Dengan Siksaan Yang Ditimpakan Kepadamu .… ” Mengandung Makna Bolehnya Melakukan Semua Ini, Yaitu Membalas Dengan Balasan Serupa Dalam Urusan Nyawa, Kehormatan Dan Harta. Para Fuqaha Bahkan Menegaskan Bolehnya Membakar Lahan Pertanian Orang - Orang Kafir Dan Membabat Pepohonan Mereka Jika Mereka Memperlakukan Kita Seperti Itu, Dan Ini Adalah Masalah Yang Sama. Allah Subhanahu Wa Ta‘ala Sendiri Mengizinkan Para Shahabat Menebangi Pohon Kurma Orang - Orang Yahudi Dikarenakan Dalam Hal Itu Ada Kehinaan Bagi Mereka. Dan Ini Menunjukkan Bahwa Allah Subhanahu Wa Ta‘ala Menyukai Dan Mensyariatkan Kehinaan Orang Jahat Dan Dzolim. Jika Membakar Harta Orang Yang Melakukan Ghulul ( Mengambil Harta Rampasan Perang Sebelum Dibagikan ) Saja Boleh Dikarenakan Ia Telah Mengkhianati Harta Ghanimah Kaum Muslimin, Maka Membakar Hartanya Jika Ia Membakar Harta Orang Muslim Yang Dilindungi Tentu Lebih Layak Untuk Diperbolehkan. Jika Dalam Harta Yang Menjadi Hak Allah, Yang Pemberiannya Lebih Banyak Daripada Penagihannya, Maka Dalam Harta Yang Menjadi Hak Seorang Hamba Yang Pelit Tentu Lebih Layak.


Juga Allah Subhanahu Wa Ta'ala Telah Mensyariatkan Hukum Qishosh Dalam Rangka Menakuti - Nakuti Jiwa Agar Tidak Melakukan Perbuatan Aniaya, Padahal Bisa Saja Dia Cukup Mewajibkan Membayar Diyat Untuk Menebus Kedzaliman Pelaku Kejahatan Dengan Harta. Akan Tetapi Apa Yang Allah Syariatkan Lebih Sempurna Dan Lebih Baik Bagi Para Hamba Serta Lebih Bisa Menyembuhkan Kedongkolan Dalam Hati Orang Yang Dizalimi, Di Samping Lebih Menjaga Nyawa Dan Rusaknya Anggota Tubuh. Jika Tidak Seperti Ini, Maka Orang Yang Membunuh Orang Lain Atau Mematahkan Salah Satu Anggota Badannya, Ia Harus Dibunuh Atau Dipotong Juga Anggota Badannya Dan Masih Harus Membayar Diyatnya. Namun Hikmah, Kasih Sayang Dan Kemaslhatan Menolak Hal Itu. Hal Yang Serupa Juga Berlaku Pada Tindak Kezaliman Terhadap Harta. ”


JIKA ORANG MUSLIM SAJA BISA DIQISHOSH KEPADA SESAMA MUSLIM DAN MEMBALAS TINDAKAN ORANG KAFIR HARBY LEBIH BOLEH LAGI.


Dengan Demikian, Kita Harus Tahu Bahwa Jika Orang Muslim Saja Bisa Diqishosh Dengan Hukuman Serupa Ketika Ia Berbuat Jahat Kepada Sesama Muslim. Maka Tentu Saja Membalas Tindakan Orang Kafir Harbiy Terhadap Kaum Muslimin Dengan Balasan Serupa Lebih Boleh.


Nah, Jika Dengan Berdalih Menggulingkan Saddam Amerika Boleh Membunuh 1.732.000 Nyawa Selama Masa Embargo Terhadap Irak Dan Hingga Kini Masih Berlangsung – Padahal Sebenarnya Urusan Utamanya Lebih Besar Dari Dalihnya Tersebut —, Ia Juga Bisa Membunuh Ribuan Orang Di Afghanistan Karena Keberadaan Kepemimpinan Jihad Di Sana, Dan Masih Banyak Lagi Di Tempat Lain ..… Lantas Mengapa Kita Tidak Boleh Membunuh Mereka, Membombardir Mereka, Menjadikan Mereka Sebagai Target Serangan, Atau Meng - Ightiyal Mereka Sehingga Kita Mencapai Jumlah Yang Seimbang Dengan Yang Mereka Telah Bunuh ? Kenapa Kita Tidak Membunuh Mereka Karena Adanya Bush, Blair, Dan Sharon Sebagaimana Mereka Membunuhi Kita Karena Si Fulan Dan Si Fulan ?Oleh Karena Itu, Kita Harus Mengambil Jatah Yang Sama. Sebagaimana Mereka Membunuh, Mereka Dibunuh. Sebagaimana Mereka Melakukan Ightiyalat, Mereka Pun Di - Ightiyalat.


Wallahu A‘lam.

Senin, 14 April 2014

KEWAJIBAN MERENUNGKAN CIPTAAN ALLAH

Assalamu'alaikum Jumpa lagi Ommmmm :)
KEWAJIBAN MERENUNGKAN
CIPTAAN ALLAH
Dalam hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:
عن عطاء قال:" دخلت أنا وعبيد بن عمير على عائشة رضي الله عنها، فقال عبد الله ابن عمير: حدثينا بأعجب شيء رأيتيه من رسول الله صلى الله عليه وسلم. فبكت، وقالت: " قام ليلة من الليالي فقال: يا عائشة ذريني أتعبد لربي، قالت: قلت: والله إني لأحب قربك، وأحب ما يسرك، قالت: فقام فتطهر، ثم قام يصلي، فلم يزل يبكي حتى بل حجره، ثم بكى. فلم يزل يبكي حتى بل الأرض، وجاء بلال يؤذن بالصلاة، فلما رآه يبكي قال: يا رسول الله تبكي وقد غفر الله لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر؟ قال: أفلا أكون عبدا شكورا؟ لَقَدْ نَزَلَتْ عَلىَّ اللَّيْلَةَ اَيَاتُ وَيْلٍ لِمَنْ قَرَاَهَا وَلَمْ يَتَفَكَّرْفِيْهَا: اِنَّ فِىْ خَلْقِ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ اَلاْيَةَ .
Artinya: 

Dari Atha’ rahimahullah menceritakan:

“Saya dan Ubaid bin Umair menghadap Aisyah Radhiyallahu Anha. Ubaid berkata: “Berilah kami cerita (hadits) yang paling berkenan di hatimu. Aisyah menangis tersedu, lalu berkata:
 
“Pada suatu malam Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bangun, beliau berkata kepadaku: “Wahai Aisyah, tinggalkanlah aku untuk beribadah kepada Tuhanku.” Aisyah berkata: “Saya berkata, “Sesungguhnya saya ingin selalu di sampingmu, Rasul dan senang dengan apa yang membuatmu bahagia.” 
Aisyah melanjutkan: “Kemudian Nabi bangkit untuk bersuci dan melakukan shalat. Beliau tidak henti-hentinya menangis sehingga panguannya basah oleh air matanya. 
Kemudian datanglah Bilal memberitahukan bahwa waktu shalat -subuh- telah tiba. Tatkala melihat beliau menangis, Bilal bertanya, “Wahai Rasul, mengapa Engaku menangis, bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?”
 
Beliau menjawab, “Apakah saya tidak senang menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur? Tadi malam ada beberapa ayat yang turun. Sungguh celaka mereka yang membacanya tetapi tidak merenungkan. Yaitu: “Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi…” 
Hadits ini diriwayatkan oleh Abusy-Syaikh Ibnu Hibban di dalam kitabnya Ahlaqun Nabi (200 – 2001) dan Ibnu Hibban di dalam kitab shahihnya (“Mawarid”, 523), di shahihkan oleh imam ibnu Hibban, Syeikh Al-Albani, dll. (Ash-Shahihah: 68).
--------------------
Faedah Hadits:
.
1.     Hadits diatas menunjukkan fadhilah / keutamaan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau sesorang yang paling takut kepada Rabb-Nya, banyak ibadahnya (seperti shalat malam, dll) padahal beliau Telah diampuni dosa-dosanya baik dosa-dosa yang telah lalu maupun yang akan datang, dan hal tersebut menunjukkan bawa beliau “Kamalul Basyar” (manusia yang sempurna).
2.     Hadits diatas menunjukkan bahwa Qiyamul lail dilakukan setelah tidur malam.
 .
Dalam hadits yang lain:
" كان ينام أول الليل، ويحي آخره ... ". أخرجه مسلم (2 / 167)
Artinya:
“Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidur di permulaan malam dan menghidupkan qiyamullail di akhir malamnya.” (HR Muslim (2/167))
.
3.     Tafakkur / memikirkan terhadap  Ciptaan Allah sangat di perlukan, agar mengetahui keagungan ciptaan Allah, dan Rasa Syukur kepada Allah, disamping  juga dengan mendalami agama islam secara kaffah.
 .
Dalil-Dalil Tentang Tafakkur:
 .
Dalil pertama:
 .
Allah Ta’ala berfirman:
 .
يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَآ إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَآ أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا ۗ وَيَسْـَٔلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ ٱلْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ
.
Artinya:
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir”, (QS. Al-Baqarah [2] : 219)
.
Dalil kedua:
.
Allah Ta’ala berfirman:
.
أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَن تَكُونَ لَهُۥ جَنَّةٌ مِّن نَّخِيلٍ وَأَعْنَابٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ لَهُۥ فِيهَا مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ وَأَصَابَهُ ٱلْكِبَرُ وَلَهُۥ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَآءُ فَأَصَابَهَآ إِعْصَارٌ فِيهِ نَارٌ فَٱحْتَرَقَتْ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ
.
Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (QS. Al-Baqarah [2] : 266)
.
Dalil ketiga:
.
Allah Ta’ala berfirman:
.
قُل لَّآ أَقُولُ لَكُمْ عِندِى خَزَآئِنُ ٱللَّهِ وَلَآ أَعْلَمُ ٱلْغَيْبَ وَلَآ أَقُولُ لَكُمْ إِنِّى مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَىَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلْأَعْمَىٰ وَٱلْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ
“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" (QS. Al-An'am: 50)
Referensi:
"Kitab "Shahih" Karya ibnu Hibban,
"Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah" Karya Syeikh Nasiruddin Al-Albani,   
"Akhlaqun Nabi" Karya Abu Syeikh bin Hayyan, dll